Buku tutorial pemrograman
May 27, 2010 by albert
Filed under Alumni Aggregator
Tadi sore, saya ditanya oleh seorang teman, “Kalo mau belajar CakePHP, biasanya pake buku apa ya?”. Pertanyaan sederhana, tapi saya kesulitan menjawabnya. Tersadarlah saya, bahwa sudah sekian tahun lamanya, saya tidak membeli buku tutorial pemrograman. Sekarang, ide membeli buku tutorial terdengar aneh bagi saya.
Saya masih ingat, sekitar 10 tahun yang lalu, seorang teman memiliki sebuah buku tentang PHP, berbahasa Inggris (waktu itu buku PHP berbahasa Indonesia belum ada). Buku itu menjadi semacam kitab keramat bagi kami. Forum di internet yang membahas PHP belum semarak sekarang. Untuk sekedar menggandengkan webserver atau database dengan PHP saja masih perlu perjuangan, setting sana setting sini. Buku itu menyajikan hampir semua jawab atas pertanyaan kami tentang PHP. Sampai akhirnya beberapa waktu kemudian, saya dan teman2 hafal urutan bab2nya. 10 tahun yang lalu, buku tutorial penting sekali.
Waktu berjalan, akses internet semakin mudah dan murah, kandungan informasi di internet juga semakin padat. Saya tidak pernah lagi membeli buku tutorial pemrograman. Salah satu sebabnya, karena buku semacam itu cepat usang informasinya, tidak jarang malah sudah usang dalam hitungan bulan. Informasi terbaru selalu tersedia di internet. Berkat Google, informasi apapun mudah dan cepat sekali ditemukan.
Saya jadi ingin tahu, apakah buku2 tutorial yang banyak dipajang di toko buku itu laris terjual? Jika tidak, mengapa masih banyak ditawarkan? Atau memang masih ada banyak orang yang membutuhkan buku2 tutorial itu? Yang mungkin belum menikmati akses internet sebanyak saya?
Yang jelas, akhirnya jawaban yang saya berikan pada si teman tadi, “Wah, saya tidak pernah beli buku soal CakePHP. Dulu saya cari manualnya di internet, dan kemudian saya belajar dari manual itu.”
Menghabiskan makanan
May 25, 2010 by albert
Filed under Alumni Aggregator
Saat usia saya belum lagi menginjak 10 tahun, saya pernah diajak ayah saya pergi ke beberapa kota di Jawa Timur selama beberapa hari. Pada tahun2 itu, biasanya setahun sekali beliau mengadakan perjalanan ke daerah Jawa Timur untuk mengunjungi beberapa toko yang menyalurkan bola bulutangkis buatan industri rumah tangga kami. Biasanya beliau pergi sendiri, namun pada kali itu, saya diajak. Kami berdua menumpang bus antar kota. Saya menyadari, bepergian dengan anak kecil tidaklah mudah. Dengan kendaraan umum pula. Tapi ayah saya tampak senang pergi mengajak anaknya. Saya merasa kecil di tengah ramainya orang. Di dalam bus yang berisi banyak orang, terlebih di dalam terminal, yang tidak hanya penuh orang, tapi juga bus2 raksasa itu.
Suatu siang, kami makan di sebuah warung di dekat terminal. Seingat saya, warung tenda itu menghidangkan kari ayam. Entah mengapa, siang itu saya tidak begitu suka dengan hidangan itu. Saya tidak menghabiskannya. Saya ingat, saat itu ayah saya menanyai saya, “Yakin kamu tidak bisa menghabiskannya?” Saya mengangguk, yakin tidak akan menghabiskannya. Saya tahu, beliau agak kecewa, walau hanya sekilas terbersit di wajahnya. Beliau segera berdiri untuk membayar makanan kami. Saat kami beranjak hendak pergi dari warung itu, ada kejadian yang tidak akan saya lupakan dari benak saya. Pemilik warung, yang mengangkat mangkuk2 kami, menyerahkan mangkuk saya yang masih setengah berisi makanan pada seorang bocah penyemir sepatu yang duduk di belakang warung tenda itu. Saya amat terkejut ketika si bocah, yang kurang lebih seusia saya itu, segera menyantap lahap sisa makanan saya! Saya tidak begitu ingat, apakah ayah saya, yang juga melihat kejadian itu mengatakan sesuatu pada saya. Seingat saya beliau tidak mengatakan apapun. Beliau hanya memandangi saya, menyakinkan dirinya bahwa anaknya belajar sesuatu dari apa yang dilihatnya, dan kemudian menggandeng saya pergi untuk melanjutkan perjalanan.
Saya, yang biasanya memang sudah amat jarang tidak menghabiskan makanan karena itulah yang diajarkan orang tua saya, menjadi lebih jarang lagi tidak menghabiskan makanan. Jika biasanya yang teringat saat makan adalah betapa untuk makanan itu bisa terhidang di piring saya banyak orang dan proses yang terlibat di dalamnya sehingga saya harus menghargainya, maka setelah kejadian tersebut, yang tertempel di benak saya adalah wajah si bocah penyemir sepatu itu.
Saya amat jengkel melihat orang tidak menghargai makanan yang dihidangkan untuknya. Di warung makan, di perjamuan pernikahan, di acara yang diadakan tetangga, di mana saja, saya merasa amat kesal pada orang yang tidak menghabiskan makanannya, terlebih mereka yang memilih dan menakar sendiri makanan yang akan dimakannya. Makanan yang dibuang mewakili tenaga dan waktu manusia yang tersia2, hanya untuk berakhir di tempat sampah.
Mendayagunakan sebuah server yang setahun lebih menganggur
May 24, 2010 by albert
Filed under Alumni Aggregator
Hari ini, bersama Mas Jojok, saya mengunjungi kantor Dinas Kesehatan di sebuah kabupaten. Kunjungan kami bertujuan untuk mencoba mendayagunakan sebuah server milik Dinas Kesehatan Kabupaten tersebut, yang telah menganggur selama lebih dari satu tahun.
Lebih dari setahun? Menganggur?
Ya, demikianlah kenyataannya. Saya tidak begitu paham detil cerita awal proyeknya, tapi secara garis besar, server tersebut disediakan bersamaan dengan dibangunnya beberapa puluh tower yang tersebar di tiap puskesmas pada kabupaten tersebut. Jaringan besar (dan mahal, sepertinya) tersebut dibangun, dengan harapan akan ada data kesehatan yang akan mengalir melaluinya. Entah mengapa aliran data kesehatan tersebut tak kunjung dilewatkan jaringan yang sudah siap. Belakangan malah jaringan tersebut (hanya) digunakan untuk mengakses internet. Mengakses internet untuk keperluan apa, saya sendiri tidak begitu paham.
Itu sekelumit latar belakang ceritanya. Sekarang soal petualangan kami hari ini.
Kami datang ke sana untuk menginstall Simkes (Sistem Informasi Manajemen Kesehatan - aggregator data Simpus, yang memang dirancang untuk diletakkan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota) di server yang lama menganggur tersebut. Server diletakkan dalam sebuah rak yang dilengkapi pendingin. Wow! Saya belum pernah melihat yang seperti ini, apalagi di sebuah kantor Dinas Kesehatan. Di dalam rak yang sama, selain server, terdapat pula mesin router Mikrotik (yang digunakan untuk mengatur jalur ke dunia luar, ke internet), perangkat UPS, dan sebuah monitor LCD. Ternyata monitor LCD itu tidak terhubung ke perangkat apapun, tergeletak menganggur di situ selama ini. Dengan bercanda, saya sempat berkomentar bahwa saya bersedia menampung monitor itu bila tidak digunakan di situ ![]()
Kami disodori secarik kertas berisi diagram jaringan yang telah digelar. Tapi di situ tidak dijelaskan IP servernya, juga tidak tersedia cara mengaksesnya, termasuk spesifikasi instalasinya juga. Dari traceroute terlihat bahwa akses internet tidak melalui si server, karena dari komputer client dalam jaringan, koneksi langsung menuju Mikrotik, dan setelah itu langsung menuju internet. Tidak mampir ke mana2 lagi dalam jaringan itu. Petugas dinkes mencoba menghubungkan kami dengan vendor yang dulu melakukan instalasi dan setting jaringan. Setelah melalui beberapa kali “ping pong” dan waktu tunggu lebih dari satu jam kemudian, akhirnya kami mendapat informasi IP server, OS server, user dan password yang dapat digunakan untuk mengaksesnya.
OS yang digunakan pada server adalah CentOS, OS yang asing buat saya. CentOS dijalankan secara virtual. Entah mengapa dibuat demikian, saya tidak tahu. Apache, MySQL, dan PHP telah terinstall. Tapi yang aneh, package PHP-MySQL belum terinstall. Dari beberapa referensi di internet, saya mendapati bahwa itu adalah salah satu keanehan CentOS. Package PHP-MySQL dengan mudah terinstall. Tak berapa lama kemudian, Simkes juga selesai terinstall. Simkes telah siap menerima kiriman data dari puskesmas.
Pertanyaan yang tersisa buat saya tetaplah: mengapa bisa terjadi yang seperti ini? Server menganggur. Jaringan menganggur, baru belakangan digunakan, itupun hanya untuk mengakses internet (yang sebetulnya cukup menggunakan modem usb yang belakangan ini makin murah, tidak perlu menggelar sekian puluh tower). Saya tidak tahu. Tapi bahwa kami (saya dan Mas Jojok) mendapat kesempatan untuk membantu mereka mendayagunakan server dan jaringan tersebut, adalah hal yang menggembirakan kami
Angka Dunbar (Dunbar?s Number)
April 24, 2010 by albert
Filed under Alumni Aggregator
Berapa jumlah teman Anda di Facebook? Berapa pula yang di Friendster? Atau di jaringan sosial lainnya? 100? 500? 1000? Atau malah lebih dari itu? Dan berapa banyak di antaranya yang termasuk inner circle Anda, yang Anda kenal baik? Berapa teman dekat Anda sebenarnya?
Apakah makin banyak orang yang kita kenal, makin banyak pula teman dekat kita? Apakah orang yang kenal dengan puluhan ribu orang memiliki teman dekat lebih banyak ketimbang orang yang kenal dengan ratusan orang saja?
mesh
Beberapa tahun yang lalu saya pernah tanpa sengaja memikirkan hal ini, setelah melihat ada seorang teman yang memiliki relasi dengan ribuan orang di Facebook. Saya tahu, tidak semua dari ribuan orang yang berelasi dengannya ia kenal baik. Mungkin juga dia asal terima saja ajakan pertemanan dari orang lain. Tapi pertanyaan saya adalah, apakah semakin banyak orang membuka diri berelasi dengan orang lain, akan semakin banyak pula teman dekatnya? Teman yang tidak saja kita kenal baik, tapi juga mengenal kita dengan baik. Yang mampu jadi tempat saling berbagi pikiran, tempat curhat (terutama buat Anda yang wanita). Dugaan saya, jumlah teman kita ada hubungannya dengan jumlah teman dekat kita. Jadi, mestinya semakin banyak teman kita, makin banyak juga teman dekat kita. Tapi bagaimana perbandingannya, saya belum tahu.
Hingga akhirnya saya mendapati bahwa ternyata ada ahli antropologi yang pernah melakukan penelitian tentang hal ini. Robin Dunbar, antropolog dari Inggris, meneliti dan kemudian menyimpulkan bahwa manusia memiliki batas relasi optimal. Batasnya adalah sekitar 150, dan angka ini kemudian dikenal sebagai angka Dunbar (Dunbar’s number). Dalam penelitiannya, Dunbar mendapati bahwa jumlah penduduk desa pada zaman neolitikum berkisar 150 orang, 150 adalah batas jumlah saat komunitas Hutterite memecah diri, 150 adalah jumlah personel satuan militer dasar prajurit Romawi. Dunbar berpendapat bahwa 150 adalah jumlah yang optimal bagi sekelompok orang untuk saling berhubungan dekat dan mampu saling bekerja sama secara efektif. Angka ini tidak mutlak tentunya. Pada masyarakat pedesaan yang tinggal saling berjauhan, bisa jadi angkanya di bawah itu, karena mereka tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk saling mengakrabkan diri.
Bagaimana bila angka ini diterapkan dalam hal2 praktis? Misalnya untuk mengatur pengelompokan RT atau RW, atau untuk mengatur jumlah maksimal karyawan dalam sebuah kantor. Mungkin menarik untuk dicoba
Berikut adalah beberapa tulisan menarik tentang Dunbar’s number:
- Dunbar’s Number and Facebook App Blindness
- Are Humans Hard Wired For A Limited Social Circle?
- Social Networking and Dunbar’s Number
- Extending Dunbar’s Number with the social web
Memandu perbaikan database Simpus secara remote, dengan operator awam
April 23, 2010 by albert
Filed under Alumni Aggregator
Minggu lalu, terjadi masalah kegagalan proses restore data di salah satu puskesmas di kota Magelang. Puskesmas tersebut, Puskesmas Magelang Tengah, menggunakan Simpus Web. Akibat dari kegagalan proses restore data ini, data yang ada di dalam database tidak lagi utuh. Ada sebagian data yang tidak lengkap. Tentu saja karena kondisi ini Simpus Web tidak dapat berjalan sempurna. Penyebab kegagalan proses restore sudah diidentifikasi dan sudah dibuatkan patch perbaikannya.
Mengapa sampai terjadi masalah kegagalan restore adalah topik menarik, dan mungkin akan saya bahas pada posting lain. Yang ingin saya ceritakan saat ini adalah bagaimana saya secara remote via telepon memandu dr. Majid (Kapus Puskesmas Magelang Tengah) untuk memulihkan database yang rusak tersebut.
Pak Majid adalah pengguna komputer yang cukup cakap. Operasional dasar komputer dan aplikasinya, termasuk Simpus Web, beliau kuasai. Tapi untuk mengakses server, masuk ke database, menghapus dan memuat ulang data backup yang tersedia, beliau belum berpengalaman sama sekali. Saat terjadi masalah tersebut, saya belum dapat datang ke lokasi untuk membenahinya secara langsung. Saya bersedia memandu proses tersebut, dan kebetulan Pak Majid (setelah dibujuk2 sedikit, hehehe) bersedia juga saya pandu.
Yang perlu dilakukan sebetulnya relatif sederhana, bagi mereka yang paham tentunya, yaitu memeriksa backup mana yang terbaru, menghapus database yang rusak, memuat data backup yang terlengkap dan terbaru, dan mengubah beberapa kode PHP untuk menanggulangi masalah serupa di kemudian hari. Aplikasi bantu yang digunakan adalah, WinSCP, PuTTY, dan phpMyAdmin.
WinSCP & PuTTY
Bermodalkan program telepon murah dari salah satu penyedia jasa telepon seluler, saya memandu Pak Majid via handphone. Oh ya, penting untuk diketahui pula bahwa Simpus Web diinstall di server Ubuntu, Pak Majid mengaksesnya dari komputer dengan Windows XP. Pertama-tama, Pak Majid saya minta untuk masuk ke server dengan menggunakan PuTTY. Untungnya saya mengingat user dan password yang dapat digunakan. Pak Majid berhasil masuk ke server, kemudian saya minta masuk ke folder tempat data backup disimpan. Perintah yang perlu diketikkan oleh Pak Majid saya diktekan satu per satu, bila perlu huruf per huruf. Saya hanya membayangkan saja apa yang tampil di layar komputer Pak Majid. Yang perlu kami ketahui pertama kali adalah, yang mana file backup yang terbaru. Dengan mengetikkan perintah “ls“, akan tampil daftar file yang ada. Ketika saya minta Pak Majid mencari data tanggal file, Pak Majid bingung. Pikir punya pikir, saya meralat perintahnya menjadi “ls -al”, agar data tanggal file muncul. File backup terbarunya ketemu!
Langkah selanjutnya adalah menghapus database yang ada dengan bantuan phpMyAdmin (selanjutnya saya sebut PMA, biar singkat). PMA sudah terinstall, dan Pak Majid saya pandu mengaksesnya dengan browser. Ternyata user dan password yang saya ingat salah. Wah gawat, pikir saya, bagaimana cara mendapatkan user dan password yang benar? Akhirnya saya teringat bahwa di salah satu file konfigurasi aplikasi Simpus Web terdapat data itu. Pak Majid saya minta menggunakan WinSCP (diawali dengan mengatur setting untuk dapat masuk ke server) untuk melihat salah satu isi file konfigurasi Simpus Web. Data user dan passwordnya ketemu! Dengan data tersebut, masuklah Pak Majid ke PMA, untuk dapat memilih database yang rusak dan menghapusnya. Layar tampilan PMA cukup simpel, tidak susah memandu Pak Majid untuk mengeksekusi langkah ini.
Untuk memuat data backup yang tadi telah diidentifikasi, Pak Majid kembali saya minta masuk ke server dengan PuTTY. Dengan perintah “mysql -u blablabla…” Pak Majid tinggal mengisikan password untuk mengeksekusi proses restore data secara manual ini. Sempat terjadi kebingungan ketika Pak Majid berusaha memasukkan password, tapi tidak menjumpai indikator apapun di layar yang menunjukkan bahwa password telah dimasukkan. Saya lupa memberitahu Pak Majid bahwa ketika password dimasukkan, memang tidak akan muncul indikator apapun. Kebingungan segera teratasi, data backup termuat.
Saat memandu Pak Majid untuk mengubah kode PHP, saya harus memastikan bahwa kode ditulis secara benar, dan ditulis pada tempat yang benar. Untuk memastikannya, saya minta Pak Majid untuk membacakan kode beberapa baris di atas dan beberapa baris di bawah tempat kode PHP tambahan ditempatkan. Sedikit repot, tapi cukup aman.
Akhirnya, setelah beberapa sesi panduan, Simpus Web dapat digunakan lagi untuk sementara. Setidaknya, input data dapat dilakukan dengan aman. Beberapa masalah yang masih tersisa, terkait dengan masalah restore data yang gagal, saya benahi beberapa hari kemudian saat saya pergi ke Magelang. Saat ini semuanya sudah berfungsi normal seperti sediakala.
Dari pengalaman ini, saya mendapatkan beberapa hal yang menarik:
- Dengan ketekunan, kekompakan, dan ketelitian, panduan secara remote mungkin dilakukan, termasuk dengan operator yang awam teknis, tapi cukup cakap mengoperasikan komputer.
- Pemandu harus dapat membayangkan secara utuh apa yang sedang dihadapi, baik dengan pengalaman sebelumnya yang ia miliki, juga dilengkapi dengan informasi yang detil dari operator.
- Ketersediaan akses internet pada kedua pihak amat membantu. Pada pengalaman kemarin, Pak Majid hanya memiliki akses internet di rumah, dan tidak di Puskesmas.
- Program telepon murah amat membantu
Buat Pak Majid, saya mengucapkan terimakasih untuk kesediaannya saya pandu
Jangan kapok ya Pak.
Menginstall Pidgin di Ubuntu 9.10? (tanpa koneksi internet)
April 13, 2010 by albert
Filed under Alumni Aggregator
Topik seperti ini kok dibahas? Bukannya tinggal buka Synaptic Package Manager, centang Pidgin (kalau belum ada di daftarnya, update dulu list package-nya), terus klik Apply? Betul, 100% gampang……. jika Anda punya koneksi internet di Ubuntu yang mau diinstalli Pidgin.
Ini malah lebih aneh lagi, sudah tidak punya koneksi internet, mau install Pidgin buat apa? Buat gaya2an aja?
(Orang sabar disayang Tuhan..)
Jadi ceritanya begini. Puskesmas2 sekota Magelang menggunakan Simpus Web, belakangan ini mereka menambah komputer2 baru, dengan sistem operasi Ubuntu 9.10. Sebelumnya, saat semua komputer di sana menggunakan Windows XP, mereka menggunakan Yak sebagai alat bantu komunikasi antar ruang. Karena Yak hanya dapat diinstall di Windows XP, saya sebagai salah satu pihak pengompor penggunaan Ubuntu harus ikut bertanggung jawab mencarikan pengganti Yak.
Sebentar… Jadi hubungannya dengan Simpus Web apa yah?
Mmmmm… Nggak ada ya?
Itu tadi niatnya numpang ngiklan aja sih… (ngaku)
![]()
Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya mendapat informasi bahwa Pidgin dapat digunakan untuk komunikasi antar komputer dalam LAN. Segera setelah mendapat kabar itu, saya dengan gembira menuju ke situs resmi Pidgin, langsung ke bagian download untuk mencari paket installasi untuk Ubuntu. Eng ing eng.. Ternyata yang ada cuma petunjuk untuk menambahkan Pidgin dalam daftar paket Ubuntu, untuk kemudian didownload dan diinstall lewat package manager. Atau, bisa juga install dengan mengompile source code Pidgin.
Awalnya, saya ambil pilihan untuk mencoba compile dulu saja. Source Pidgin diperoleh. Kemudian.. masalah berikutnya mulai muncul. Untuk bisa mengompile Pidgin, banyak sekali dependensinya. Sampai tingkatan cucu saya coba cari dependensinya (maksudnya dependensi level ke 3), tidak habis2. Selalu saja ada paket instalasi yang butuh paket lain. Dan, paket2 dependensi ini saya download di komputer lain, karena saya cuma punya modem ZTE AC2726 nya Smart. Beda dengan modem Huaweinya Telkomflash, modem ZTE ini tidak langsung dikenali oleh Ubuntu. Jadi, saya download paket dependensi yang dibutuhkan Pidgin di komputer lain (dengan Windows XP), lalu dikopi ke Ubuntu, baru dicoba diinstall, kalo masih butuh lagi, cari lagi di komputer Windows XP. Total hingga saat saya menyerah dengan cara ini, saya sudah mengumpulkan lebih dari 30 paket instalasi.
Saya putuskan mencari cara agar si Ubuntu bisa pakai modem ZTE. Jadi, saya harus cari cara install modem ZTE dulu di Ubuntu. Ternyata, di internet bertebaran informasi soal ini, yang saya acu yang ini. Semua saya ikuti dengan lancar, sampai pada langkah “.. lalu jalankan usb_modeswitch ..”. usb_modeswitch sudah dijalankan, tapi tidak ada perubahan. Macet. Stress.
Dikutak kutik, dikutak kutik.. Ternyata jalan, dengan tambahan sudo: “sudo usb_modeswitch”. Sama juga dengan langkah terakhir, yang di acuan itu dituliskan “untuk konek ke internet jalankan perintah wvdial pada terminal..”, juga minta pake sudo. Mungkin user yang saya pakai tidak memiliki otoritas yang cukup untuk menjalankan kedua perintah itu.
Akhirnya, bisa juga internetan dengan ZTE AC2726 di Ubuntu 9.10. Singkat kata, paket instalasi Pidgin muncul di daftarnya Synaptic. Centang, dan jalankan. Pidgin terinstall.
Tapi tunggu..
Di sana ada beberapa komputer Ubuntu yang lain. Konyol rasanya kalau setiap kali mau install harus setting modem dulu.
Pikir punya pikir, tadi waktu muncul di Synaptic, yang dicentang adalah paket “pidgin” dan “pidgin-data”, kenapa tidak mencoba download langsung kedua paket itu, untuk kemudian langsung diinstall di komputer Ubuntu yang lain? Didownloadlah kedua paket itu, di sini dan di sini.
Dan ternyata, bisa!!

Setelah menjalani banyak ketersesatan, akhirnya saya mendapati jalan yang lurus dan terang (halah!). Cukup download 2 paket itu, lalu install. Selesai.
Lalu bagaimana dengan cara setting Pidgin agar bisa dipakai untuk chat dalam LAN? Soal ini sudah banyak dibahas di internet. Bisa langsung dicari pakai google.
Tentang Pasar Tradisional
April 10, 2010 by albert
Filed under Alumni Aggregator
Waktu saya kecil dulu, saya sering diajak ibu saya pergi ke pasar. Pasar yang saya maksud adalah yang belakangan ini sering dibilang pasar tradisional. Ibu saya memiliki beberapa warung langganan di pasar itu, dan biasanya kesanalah kami menuju. Transaksi selalu diawali dengan tawar menawar singkat, kadang ditambah sedikit bincang2 akrab, sebelum akhirnya barang dan uang bertukar pemilik. Transaksi di pasar selalu kental dengan aroma kepercayaan. Jika penjual tidak memiliki kembalian, salah satu pihak akan dengan mudahnya mempercayakan kekurangannya (bisa kekurangan kembalian ataupun kekurangan pembayaran) ke pihak yang lain untuk digenapi di lain waktu. Pasar itu berada di dekat rumah kami. Dapat dicapai dengan berjalan kaki tidak lebih dari 10 menit. Penjualnya banyak, dengan komoditas yang mereka jual sebagian besar sama antara satu penjual dengan penjual yang lain. Hingga saat ini saya tidak pernah tahu, mengapa ibu lebih memilih membeli pada penjual yang ini dan itu, dan bukan yang lain. Mungkin kaitannya dengan kepercayaan tadi. Mungkin.
Selepas ritual pergi ke pasar saat masa kecil itu, sekarang saya amat jarang pergi ke pasar tradisional (tradisional terpaksa saya sebut untuk membedakan dengan jenis pasar yang lain, seperti supermarket). Dari beberapa kali kunjungan terakhir saya ke pasar tradisional, saya mendapati suasana yang tidak berbeda dengan kunjungan2 saya yang dulu itu. Faktor kepercayaan masih lekat di dalamnya, walau dalam pengamatan saya sebagian penjual telah beralih generasi. Kondisi fisiknya juga tidak jauh berbeda. Masih panas hawanya, sering becek, dan tidak jarang orang2 masih harus saling berdesakan. Di luar pasar masih banyak sepeda, walau sekarang sepedanya sudah ditambahi motor, alias jadi sepeda motor
Juga masih banyak becak.
Belakangan ini makin sering diributkan soal bakal matinya pasar tradisional, jika pasar modern semacam minimarket, supermarket, atau hipermarket (wew! semua kata serapan, tidak ada istilah asli lokalnya ya?) tidak ditata penyebarannya. Soal aturan tata ruang, saya tidak memiliki informasi yang cukup, jadi saya tidak akan berbicara soal itu. Tapi bincang2 ringan dengan seorang teman kemarin membuat saya jadi berpikir ulang, benarkah pasar tradisional akan mati oleh menjamurnya pasar modern?
Pasar tradisional, hadir dengan keberadaannya seperti yang kita lihat sekarang tidak secara begitu saja. Di sebuah tanah kosong dibangun sebuah bangunan pasar, lalu voila! orang berdatangan dan bertransaksi di situ. Bukan, saya yakin bukan seperti itu. Seperti halnya proses terbentuknya sebuah kota, sebuah pasar hadir di situ, di tempat itu, karena di titik itulah terdapat simpul pertemuan orang. Bisa jadi karena di tempat itulah pada mulanya dulu orang sering berlalu lalang. Mungkin awalnya ada seorang mbok atau mbah melihat peluang berjualan sayur di sekitar titik simpul itu karena ramai dilalui orang, dan kemudian menggelar dagangannya di atas sebuah tikar. Orang yang lewat melihat, mungkin jaraknya dari rumahnya cukup dekat, lalu memutuskan untuk membeli dagangan si mbah tadi. Orang lain mengikuti jejak si mbah tadi, ikut menggelar dagangan di dekat si mbah. Bertambah pula pembelinya. Terciptalah sebuah pasar.
Pasar tradisional, akan terus hadir di sana, menjalankan fungsinya mempertemukan penjual dan pembeli, selama lingkungannya mendukung. Yang dimaksud dengan lingkungan yang mendukung itu seperti misalnya, permukiman di sekitar pasar masih dihuni orang, masih tersedia jalan untuk mengakses pasar, dan pasokan komoditas masih terus mengalir ke pasar itu.
Lalu, bagaimana jika misalnya tidak lebih dari 1 kilometer dari pasar itu dibangun sebuah supermarket?
Mari coba kita lihat terlebih dahulu karakteristik pembeli pasar tradisional. Dari pengamatan sekilas saya, pembeli di pasar tradisional biasanya adalah ibu2 rumah tangga dan pemilik warung2 makan ukuran kecil atau sedang. Mereka datang ke pasar tradisional karena rumahnya relatif dekat pasar, atau karena ada ikatan emosional dengan penjual2 di pasar itu. Berbelanja sambil bertukar cerita, itu sering saya lihat. Ada rasa saling percaya, seperti yang sempat saya singgung di atas. Ada kepuasan tersendiri berbelanja setelah sebelumnya terjadi tawar menawar. Apa yang dirasakan oleh pembeli2 di pasar tradisional tidak dijumpai di pasar modern. Pasar modern dingin (selain karena ber-ac juga karena minim nuansa keramahan dan keakraban di sana, pembeli memilih dan mengambil sendiri belanjaannya) dan kaku (tidak ada tawar menawar). Selain itu, rasanya kurang pas pergi ke pasar modern bersandal jepit dan berbaju sedikit kumal yang nyaman di badan.
Mungkin yang akan beralih ke pasar modern adalah ibu2 modern, yang tidak lagi memiliki waktu luang di pagi hari untuk berbelanja, yang mungkin akan rusak dandanan dan aroma tubuhnya bila membalik dan memilih ayam di pasar tradisional (oke, saya agak berlebih2an dalam poin yang terakhir ini, walau mungkin poin itu tidak salah sepenuhnya). Selain itu, mungkin juga pemilik warung yang merasa barang yang dijual di pasar modern berkualitas sedikit lebih baik. Saya sebut mungkin, karena saya sendiri tidak begitu paham soal kualitas barang bahan makanan. Hanya kebetulan saya pernah mendengar dari seorang teman bahwa dengan kekuatan modalnya dan jangkauannya, pasar modern mampu memilih terlebih dahulu barang dengan kualitas terbaik dan sisanya baru masuk ke pasar tradisional. Saya rasa ini masuk akal, mungkin saja kenyataannya memang benar begitu. CMIIW.
Jadi?
Jadi, mungkin pasar tradisional akan terus bertahan, selama masih ada masyarakat atau calon pembeli yang memiliki karakteristik pembeli pasar tradisional seperti dijabarkan tadi, dan selama masih ada daya dukung dari lingkungan sekitarnya. Pasar tradisional tidak akan bertahan jika misalnya, pemerintah memutuskan untuk memindahkan pasar itu ke lokasi lain (tanpa mempertimbangkan lingkungan pendukungnya: tempat terlalu jauh dari permukiman, akses jalan tidak memadai, dll), atau masyarakatnya sudah berubah total menjadi masyarakat modern yang sibuk dengan karier yang tidak lagi sempat menikmati interaksi harian di dalam pasar tradisional, atau terdapat perbedaan kualitas komoditas yang terlalu menyolok antara pasar tradisional dengan pasar modern.
Jika demikian halnya, apakah dengan ini berarti tidak ada alasan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pasar tradisional? Tentu saja pasar tradisional perlu terus diperbaiki. Apa yang perlu diperbaiki? Banyak juga menurut saya. Pertama, kebersihan dan kerapiannya. Citra yang melekat di benak kita tentang pasar tradisional adalah becek, kotor, dan panas. Bukankah akan makin menarik bila pasar tradisional tampil rapi, bersih, dan nyaman? Selain itu, ketertiban lahan parkir biasanya juga masih menjadi kendala. Di pasar tradisional manapun, saat pagi hari biasanya parkir kendaraan meluber ke jalan raya. Parkir yang tertib akan menarik orang untuk datang ke pasar tradisional. Masih ada beberapa lagi: standarisasi kualitas barang dagangan, pengaturan tata letak pedagang (biasanya juga meluber sampai ke luar pasar), penertiban arus lalu lintas sekitar pasar (banyak kendaraan umum berhenti di dekat pasar).
Ini pendapat saya. Ada pendapat lain? Mari berbincang.
Catatan Tentang William Soeryadjaya
April 5, 2010 by albert
Filed under Alumni Aggregator
Saya tidak kenal William Soeryadjaya secara pribadi. Ingatan masa kecil saya tentang beliau hanyalah sebatas beliau (tadinya) adalah pemilik Grup Astra, kepemilikan beliau atas Grup Astra itu berakhir ketika Bank Summa milik putranya kolaps, dan beliau dikenal orang sebagai orang baik dan rendah hati. Tapi ketika beliau meninggal beberapa hari yang lalu, catatan hidupnya kembali tersebar di sana sini, dan saya mencoba memungut tebaran cerita itu. Setidaknya untuk mengambil apa yang bisa jadi pelajaran buat saya. Berikut ini adalah hasilnya, semoga bermanfaat.
Dari twitter:
goudotmobi Astra International founded in 1957, based on a small trading business operated by brothers Tjia Kian Tie & #WilliamSoerydadjaya.
si_pipiet #Wil RT @goudotmobi: In ‘84, William sold his land in Cilandak below market value so that PMBS could be built http://bit.ly/bWWMpy
benhan Bank Summa bekerjasama dengan NU membuat Nusumma, gerakan dg visi membuka ribuan bank rakyat di seluruh Indonesia #Wil
benhan Thn 1992, Om Willem jual 100 juta sahamnya utk ganti uang deposan kecil di Bank Summa milik anaknya yg jatuh http://bit.ly/aGJN66 #Wil
benhan Akhirnya Bank Summa dibail-out Oom Willem dg menjual sahamnya di Astra. Yang beli sahamnya? Prayogo Pangestu & Liem Sioe Liong #Wil
benhan Oom Willem jual 100jt sahamnya di Astra dg harga Rp 5000/saham = 500 Milyar. Saat itu Toyota Japan siap bayar Rp 10.000/saham #Wil
benhan Penutup dr JakartaGlobe http://bit.ly/926OVp : In the prime of his business career, William lost his kingdom, but he never looked back. #Wil
benhan RT @wimar: pertama x sm Oom William, mkn siang di kantornya. Semua dpt makanan top Jepang, Oom W khusus mkn pete,ikan asin & sayur asem #Wil
benhan RT @St_Aboe: @benhan Sy pernah makan bersama Oom William, kaget ternyata jam tangan yg dipake hanyalah casio yg sederhana. #Wil
benhan “..sepanjang sejarah blm ada seorang pengusaha seperti beliau. Om Willem rela tutupi kesalahan yg tdk diperbuatnya” Sandiaga Uno #Summa #Wil
Dari beberapa media online:
William Soeryadjaya Sang Pelopor Industri Otomotif - AntaraNews
Taufik Darusman: The Legend of William Soeryadjaya Lives On - The Jakarta Globe
William Soeryadjaya, a modest businessman, dies at 87 - The Jakarta Post
Kisah Perjalanan Bisnis Anak Pedagang Majalengka - Kompas
Sandiaga Uno: Oom Willem Bapak Profesional Bisnis - Kompas
Oom Willem (William Soeryadjaya) Obituary on Twitter - Benhan’s Posterous
Note: Jika ada di antara pemilik link atau kutipan tersebut di atas menginginkan agar link atau kutipannya tidak diletakkan di sini, harap memberitahu saya, agar dapat saya hapus.
Superblok
March 21, 2010 by albert
Filed under Alumni Aggregator
Tiap hari Minggu pagi, ada tayangan di TV yang mengiklankan berbagai hunian di ibukota. Belakangan ini (atau sudah lama sebetulnya, saya saja yang baru tahu) kata “superblok” sering muncul. Apa sih superblok itu? Dari apa yang saya dengar di tayangan itu, superblok adalah suatu konsep tata ruang yang berusaha menyatukan atau mendekatkan ruang residensial, komersial, dan perkantoran dalam satu area.
Saya jadi ingat ketika bertahun2 yang lalu saya sering memainkan game SimCity. Game SimCity menantang kita untuk menata sebuah kota dengan segala kelengkapan dan permasalahannya. Saya masih ingat, area kota dibedakan menjadi 3: residensial (area tempat tinggal), komersial (area perdagangan dan pertokoan), dan industrial (area untuk industri). Pemain diminta untuk mengatur peletakan area2 tersebut di dalam bidang permainan yang tersedia. Tentu saja, nantinya pemain juga diminta untuk mengatur peletakan jalan raya dan berbagai sarana umum lainnya, tapi menurut saya, kunci keberhasilan dalam menata kota pada game SimCity ini adalah pengaturan area kota tadi.
Saya bukan ahli tata ruang. Saya bahkan bekerja di bidang yang sama sekali berjauhan dengan soal tata ruang. Namun saya paham, bahwa tata ruang sebuah kota dapat mempengaruhi nyaman tidaknya sebuah kota untuk didiami. Kemacetan jalan, permukiman yang terlampau padat, adanya area yang terlalu sepi dan area yang terlalu ramai, menunjukkan ada yang salah dalam tata ruang. Tata ruang yang tidak terencana menimbulkan adanya perubahan penggunaan area secara mendadak. Area yang tadinya adalah area residensial, mendadak berubah menjadi area komersial. Biasanya perubahan ini ditandai dengan menjamurnya ruko (di mana peran “ko” alias toko lebih besar ketimbang peran “ru” atau rumah, karena bangunan ruko tersebut kebanyakan tidak ditinggali, sekedar jadi tempat berdagang) di area tersebut.
Kita tentunya mengamati, hampir di semua kota, arus lalu lintas amat padat saat pagi hari (saat anak2 berangkat sekolah dan para pekerja berangkat bekerja) dan sore hari (saat mereka semua pulang). Tata ruang yang kurang terencana, mengakibatkan arus lalu lintas yang saling silang. Ada yang tinggal di area utara kota, bekerja di area selatan kota. Ada yang sebaliknya. Ada yang tinggal di tengah kota, bekerja di area timur kota. Macam2. Akibatnya, semua arus lalu lintas itu bertemu di tengah kota, menimbulkan kemacetan. Waktu, tenaga, bahan bakar terbuang. Tidak jarang juga membuat orang saling marah. Orang makin lelah di jalan. Banyak jalur lingkar pinggir kota dibuat. Desakan untuk menggalakkan penggunaan sarana transportasi publik terus disuarakan. Tapi ini tidak mudah. Arus lalu lintas terlanjur kusut.
Superblok, ditawarkan oleh para pengembangnya sebagai jawaban atas ketidaknyamanan ini. Menyatukan berbagai jenis area tadi (residensial, perkantoran, dan komersial) dipandang sebagai alternatif solusi. Orang dapat tinggal, bekerja, dan berbelanja berbagai kebutuhan di area yang sama. Transportasi yang dibutuhkan amat minim, kalo tidak bisa dibilang tidak ada. Tidak ada lagi waktu yang diperlukan untuk bermacet ria di jalanan.
Yang saya lihat dari superblok ini adalah, pada akhirnya orang kembali pada kondisi zaman dulu, tinggal di area yang tidak begitu luas, saling berdekatan, semua kebutuhan relatif terjangkau. Hidup di area yang terlalu luas, di mana berbagai sarana terpencar jauh satu sama lain, tidak lagi nyaman. Ukuran kota yang sudah meraksasa, kembali “dikecilkan” dengan superblok. Superblok dipandang sebagai kota tersendiri dan mandiri.
Mungkin saja, alternatif solusi superblok ini bisa menjawab ketidaknyamanan warga kota. Mungkin. Sayangnya, berbagai hunian superblok yang ditawarkan, diberi label harga yang amat jauh dari jangkauan rakyat banyak.
Catatan: saya tidak dibayar sepeserpun oleh siapapun, termasuk pengembang superblok
5 tahun SIM Gudang Farmasi
March 7, 2010 by albert
Filed under Alumni Aggregator
Hari Jumat yang lalu, saya berkesempatan ke kantor UPT Gudang Farmasi Kab. Sleman untuk mengantar update SIM (Sistem Informasi Manajemen) Gudang Farmasi. Di sana, saya bertemu dengan Mas Ari, staf baru UPT Gudang Farmasi Sleman. Oleh Mbak Winarti, kepala UPT Gudang Farmasi, saya diminta menjelaskan cara penggunaan SIM Gudang Farmasi pada Mas Ari, yang akan membantu mengoperasikan SIM tersebut sehari2nya. Pada Mas Ari, saya mengawali penjelasan saya tentang sejarah perubahan2 pada SIM Gudang Farmasi, dan kemudian dilanjutkan dengan penjelasan singkat tentang cara penggunaannya. Sejenak saya sadar, bahwa sudah kira2 5 tahun lamanya, SIM Gudang Farmasi itu bertengger di komputer itu, menerima data, dan membantu staf di kantor itu untuk mengambil keputusan serta membuat laporan.
5 tahun yang lalu, hingga sekarang..
Kira2 5 tahun yang lalu, saya bertemu dengan Ibu Hening (yang akrab saya sapa Bu Ning), kepala Gudang Farmasi saat itu (waktu itu belum UPT) dan Mbak Utami untuk menjelaskan cara penggunaan SIM Gudang Farmasi dan mendiskusikan beberapa aspek teknis. Sebelum itu, mereka mengandalkan catatan pada kartu stok sepenuhnya, sehingga cukup merepotkan bagi mereka setiap kali butuh menyusun laporan. Saya masih ingat benar, salah satu yang diharapkan Bu Ning dari saya adalah, agar saya terus mendampingi mereka, terutama untuk membantu mereka lagi bila ada kebutuhan2 baru atau muncul masalah2 kecil pada SIM Gudang Farmasi. Saya menjanjikan akan terus mendampingi mereka untuk memberikan bantuan bila diperlukan.
Saat itu, jumlah laporan yang dihasilkan oleh SIM Gudang Farmasi tidak lebih dari 10 macam saja. Seiring dengan berjalannya waktu, kebutuhan bertambah. Jumlah laporan yang dihasilkan sudah bertambah menjadi lebih dari 20 macam. Laporan2 yang pada awalnya sekedar memenuhi kebutuhan formal, untuk laporan ke pihak lain, terutama Dinas Kesehatan Kabupaten, terus dikembangkan hingga mencakup pula laporan2 yang membantu mereka untuk memutuskan sesuatu.
Saatnya berubah
Aplikasi yang tadinya sederhana saja, terus berkembang menjadi sesuatu yang makin rumit, karena ditambah dan ditambal sana sini. Sampai pada suatu ketika, saya melihat bahwa aplikasi ini perlu didesain dan ditulis ulang, untuk mencakup semua fitur yang sudah ada, plus beberapa fitur baru, sekaligus untuk mengefisienkan kerja program, dengan jumlah data yang sudah sekian banyak. Ternyata staf Gudang Farmasi juga berpandangan serupa, sehingga kami akhirnya duduk bersama, membicarakan apa yang akan ditambah pada SIM Gudang Farmasi yang baru nanti.
Saat ini SIM Gudang Farmasi sudah beralih rupa, beberapa hal yang dulu sulit dicapai dengan framework yang lama (saat itu menggunakan patTemplate, sekarang menggunakan CakePHP), sekarang sudah disediakan. Fitur2 baru juga sudah ditambahkan. Data dari SIM yang lama sudah dikonversi untuk bisa masuk dalam SIM yang baru.
Beberapa catatan..
Dari 5 tahun perjalanan ini, ada hal yang cukup membuat saya bangga. Beberapa kali ada kunjungan dari daerah lain untuk “mengintip” aplikasi buatan saya itu. Bahkan SIM Gudang Farmasi itu pernah diminta kopinya oleh seorang konsultan WHO dari Australia (yang untungnya oleh staf Gudang Farmasi dilarang, dan ini didukung pula oleh Kadinkes Sleman saat itu). Saya tidak menyangka, aplikasi yang sederhana itu dilirik dan dianggap baik oleh pihak2 lain
Satu kata penting yang bisa saya tarik dari pengalaman 5 tahun ini adalah, komitmen. Tentu saja komitmen pengembang aplikasi (dalam hal ini saya) penting. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah komitmen dari pihak Gudang Farmasi yang didukung pula oleh Dinkes Sleman. Staf Gudang Farmasi selalu setia memberi masukan mengenai hal2 yang penting untuk diperbaiki dan ditambahkan. Kerjasama yang lama ini terus terjalin karena komitmen dari kedua pihak untuk terus memberikan yang terbaik. Saya senang, karena hingga saat ini saya masih bisa memenuhi harapan Bu Ning (yang tahun depan akan memasuki masa pensiun).
Ada beberapa hal yang masih menjadi impian kami untuk diwujudkan, yang selama ini masih sulit diwujudkan karena terkait pihak2 lain. Pertama, mengatur jadwal pengambilan obat dari puskesmas, agar pendataan pengeluaran obat bisa teratur juga. Kedua, membuat agar pelaporan dari pihak puskesmas bisa dilakukan secara digital, sehingga staf Gudang Farmasi tidak perlu menginput ulang laporan dari kertas (dari Puskesmas), ini untuk menekan kesalahan input dan tentu saja untuk mengurangi beban kerja mereka.
Saya berharap, suatu ketika impian2 ini bisa terwujud.

