AKSEN XVII COMING SOON

July 13, 2010 by admin  
Filed under SMAGA Dalam Berita

band21

Sebuah pentas seni tahunan yang diadakan OSIS SMA Negeri 3 Surakarta ini rencana akan diadakan pada Minggu, 18 Juli 2010 pada pukul 08.00 WIB bertempat di SMA Negeri 3 Surakarta Lokasi Kerkof (Jl.Prof.W.Z. Johanes 58, Jebres, Solo). Untuk tahun ini para panitia mengusung tema “The Luxurius Culture of Art” yang sekaligus akan menyuguhkan suatu pertunjukan berbagai kekayaan budaya yang kita miliki, seperti Reog,Barongsai, Tarian Nusantara, dan masih banyak yang lainnya.

Selain menyuguhkan berbagai kekayaan budaya, AKSEN XVII juga menunjukan berbagai bakat siswa-siswi SMA Negeri 3 Suarakarta yang dirangkum dalam suatu acara,  seperti modern dance, perkusi, kolaborasi berbagai bidang kesenian, band siswa serta paduan suara. Tak lupa pula acara ini juga akan dimeriahkan oleh band papan atas yaitu “The Banery” yang notabennya band ini adalah finalis salah satu acara ajang pencarian bakat. Selain “The Banery” ada pula band-band Indie dari kota solo ataupun luar solo  yang turut mendukung acara ini, seperti The Mobsters, Sweetkiller, The Chrampoelz, Stabilo, Happy Holiday, dan Discomojoyo.

Biaya tiket masuknya pun terbilang sangat murah yaitu Rp 10.000,00. Para panitia masih melayani penjualan tiket hingga hari H (apabila persediaan masih ada). Tiket ini dijual di SMA Negeri 3 Surakarta Lokasi Kerkof dan dilayani hingga jam 16.30 WIB.

posted by Afif Raihan

RAGAM CARA MENGENALI KEBUTUHAN BELAJAR

October 6, 2009 by admin  
Filed under Alumni Aggregator

Kegiatan penting yang kadang terabaikan dalam merancang program pembelajaran adalah identifikasi kebutuhan belajar. Pada kesempatan ini, Saya rangkumkan rekomendasi Mel Silberman (1990) mengenai cara mengenali kebutuhan belajar peserta, sebagai berikut :

Observasi, mengumpulkan informasi melalui hasil pengamatan pada sejumlah kriteria yang dapat diukur dan teramati langsung. Keunggulan metode ini adalah dalam hal penggunaan waktu yang cukup efisien. Keterbatasannya, subyektifitas ketika melakukan interpretasi terhadap apa yang terobservasi. Untuk mengatasi kekurangan tersebut biasanya metode observasi sering dilengkapi dengan wawancara dan memanfaatkan sejumlah ahli sebagai observer.

Kuesioner, dokumen yang berisi sejumlah pertanyaan untuk menjaring tanggapan dari calon peserta. Kuesioner yang efisien sebaiknya disusun sesingkat dan seringkas mungkin sehingga tidak memakan waktu banyak untuk mengisinya. Salah satu masalah yang perlu dipertimbangkan saat menggunakan metode ini adalah waktu, terkait dengan pengambilan, pengolahan dan interpretasi data. Selain itu, kesulitan melakukan eksplorasi lebih lanjut berkaitan dengan informasi yang diperoleh pada saat itu juga dan keengganan responden untuk mengisi atau mengembalikan kuesioner yang diterimanya.

Key Consultation. Konsultasi dengan pihak yang dianggap mengetahui kebutuhan belajar para calon peserta, misalnya: atasan, pelanggan, bidang pengembangan SDM dan anggota asosiasi profesional. Metode ini sering dipilih saat perancang menghadapi keterbatasan waktu. Keandalan metode ini ditentuka oleh penentuan “orang kunci” dan informasi yang diberikannya.

Wawancara. Metode ini menggunakan serangkaian pertanyaan, yang akan ditanyakan satu persatu kepada responden. Media yang biasanya digunakan adalah tatap muka secara langsung, melalui telepon, ataupun e-mail. Metode ini akan sangat berguna khususnya ketika dibutuhkan informasi yang kompleks dan belum sepenuhnya jelas, sebab metode ini dapat dimodifikasi dengan cepat untuk memperoleh informasi yang tiba-tiba muncul. Selain itu melalui metode ini informasi yang diperoleh cukup padat hanya dalam waktu yang singkat, idealnya tidak lebih dari 30 menit tiap responden. Hal yang perlu diwaspadai adalah bila pewawancara tidak hati-hati responden akan merasa terancam dan terintimdasi. Selanjutnya, metode ini seringkali sulit dilakukan berkaitan dengan pengaturan waktu untuk melakukan proses wawancara.

Focus Group Discussion. Metode ini menggunakan sejumlah pertanyaan yang disampaikan pada sekelompok orang dengan jumlah bervariasi (idealnya 7 sampai 9 orang), dengan pengarahan. Orang-orang yang terlibat di dalamnya sering kali teridentifikasi (setidaknya nama panggilan saja), tapi tidak menutup kemungkinan anonim. Proses diskusi ini dapat berlangsung dalam waktu lama, namun jarang berlangsung lebih dari satu jam. Metode ini akan sangat berguna khususnya ketika dibutuhkan informasi yang kompleks dan belum sepenuhnya jelas, sebab teknik ini dapat dimodifikasi dengan cepat untuk memperoleh informasi baru yang tiba-tiba muncul. Metode ini efektif untuk mengatasi responden yang keberatan untuk dieksplorasi mengenai isu atau masalah yang rumit atau kontroversial. Melalui kelompok, setiap responden akan bertukar ide dan isu, untuk selanjutnya mencari consensus bersama tentang permasalahan yang diajukan. Materi pertanyaan diskusi dapat berbentuk pertanyaan yang terdefinisi dengan jelas ataupun terbuka. Kekurangan metode ini adalah berkaitan dengan penggunaan waktu yang cukup lama, tidak menutup kemungkinan ada responden yang “menghalangi” responden lain untuk berpendapat, relasi antara pemandu dengan responden (kesamaan minat/pemikiran) dapat memunculkan interpretasi yang bias, dan sulit dilakukan berkaitan dengan pengaturan waktu khususnya bila pihak manajemen tidak mendukung sepenuhnya.

Catatan atau Laporan. Laporan yang biasa digunakan adalah laporan tampilan kerja dari calon peserta pelatihan, baik itu self report maupun hasil evaluasi atasan, ataupun laporan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Laporan tersebut akan dianalisis oleh sejumlah ahli guna menentukan letak ketidaksesuaian dari apa yang dimunculkan dengan yang seharusnya.

Merumuskan Sasaran Pembelajaran

October 6, 2009 by admin  
Filed under Alumni Aggregator

Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa silabus pelatihan dan proses diskusi sejumlah tim fasilitator, Saya menangkap kesan “perumusan sasaran pembelajaran kurang mendapat perhatian yang layak”. Bahkan salah seorang fasilitator senior yang Saya kenal, pernah mengkritik Saya “terlalu akademis” ketika Saya bertanya kejelasan tentang sasaran pembelajaran sebelum menyusun rencana fasilitasi.

Bagi Saya, merumuskan sasaran pembelajaran secara jelas dan terukur merupakan kegiatan yang SANGAT PENTING dan Saya tidak keberatan dituduh “terlalu akademis” karena mementingkan proses ini. Menurut Saya, sasaran pembelajaran merupakan panduan dalam :
a. menentukan materi dan metode pelatihan
b. menyusun perangkat evaluasi pelatihan
c. menyamakan persepsi tim fasilitator mengenai : apa yang akan dicapai dan dipelajari dalam pembelajaran, bagaimana proses pembelajaran yang akan dilakukan dan berapa lama durasi yang diperlukan.

Pengklasifikasian sasaran pembelajaran yang populer digunakan terdiri dari tiga ranah, yaitu :
a. Kognitif, meliputi pengetahuan dan perkembangan keterampilan intelektual yang dibagi kedalam enam kategori utama mulai dari tingkah laku yang sederhana hingga kompleks, sebagai berikut : knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis dan evaluation.
b. Afektif, terdiri atas cara seseorang berhubungan dengan sesuatu secara emosional, seperti perasaan, apresiasi, antusiasme, motivasi dan sikap. Area afektif ini terdiri atas lima kategori utama, sebagai berikut : receiving, responding, valuing, organization dan characterization.
c. Psikomotorik, mencakup gerakan fisik, koordinasi, dan penggunaan area keterampilan motorik. Pengembangan keterampilan ini membutuhkan latihan dan diukur melalui kecepatan, prosedur atau teknik dalam pelaksanaannya. Tujuah kategori utama area ini adalah sebagai berikut : perception, set, guided response, mechanism, complex overt response, adaptation dan origination.

Menurut Nadler dan Nadler (1982), setidaknya rumusan sasaran harus mengandung unsur :
a. Performa, apa yang mampu dilakukan peserta setelah pelatihan. Performa dituliskan dalam kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati, misalnya : mengenali, menyebutkan dan menguraikan.
b. Kondisi, dalam kondisi apa peserta menunjukkan perilaku tersebut. Bagian kondisi dari tujuan ini berupa menetapkan keadaan (lingkungan), perintah, materi, arahan, dan lain sebagainya; yang diberikan kepada peserta untuk memprakarsai tingkah laku.
c. Kritera, tingkat keberhasilan peserta dalam mencapai perilaku tersebut. Biasanya, kriteria diekspresikan dalam ukuran minimum, atau sebagai apa yang seharusnya, sebagai minimum, termasuk dalam respon peserta.
Selanjutnya, dalam menulis sasaran, Nadler dan Nadler (1982), menyarankan kepada perancang untuk memulai dengan pernyataan sebagai berikut : “Setelah menyelesaikan pengalaman belajar ini, peserta akan dapat ……..”. Selain mengikuti saran tersebut, Saya juga sering memulai dengan pernyataan seperti ini : ” Di akhir pembelajaran ini, peserta mampu ……”.
Semoga bermanfaat.

Ini Blog Unpad!

October 6, 2009 by admin  
Filed under Alumni Aggregator

Selamat datang di blog Unpad. Ini adalah posting pertama anda. Edit atau hapus posting ini, lalu mulai lah blogging!

Seminar AIDS/HIV “Keep respect and give support for ODHA”

April 14, 2009 by admin  
Filed under SMAGA Dalam Berita

Pada tanggal 15 Desember 2008 kemarin, PMR Smaga mengadakan Seminar HIV & Aids. Acara tersebut diketuai oleh Adriansyah Dhani Darmawan dari kelas XI IA 5. Pada seminar kali ini PMR mengambil tema “Keep Respect and Give Support for ODHA”.

Dari tema tersebut Dhani mengatakan bahwa acara tersebut diadakan bermaksud agar para remaja tahu bahaya & cara penularan HIV/AIDS, jadi para remaja dapat menjaga pergaulannya sehingga HIV/AIDS bisa diminimaliskan. Dan hasilnya, agar para ODHA tidak dikucilkan oleh masyarakat dan para masyarakat bisa menjaga diri.
Kali ini PMR dengan berani menargetkan peserta yang dituju untuk acara ini adalah perwakilan dari SMA Negeri 1 s.d. 8 juga perwakilan tiap kelas dan subsie-subsie di SMAGA.

PMR pun membuat kapasitas peserta 175 untuk acara tersebut. “Tapi, dari kapasitas yang disediakan yang hadir Cuma 100 orang” kata Dhani. Walaupun begitu, acara yang sudah direncanakan dengan matang mulai dari pencarian dana, pencarian barang perlengkapan, menyusun acara hingga membuat janji ini dikatakan sukses karena target sudah tercapai oleh ketua pelaksananya.

Dalam acara seminar tersebut, PMR mendatangkan narasumber dari Rumah Sakit Dr. Moewardi dan Rumah sakit dr. Sutjipto. Juga menghadirkan ODHA (orang dengan HIV dan Aids) beserta pendampingnya dari sebuah LSM. Acara ini mungkin bagi PMR sudah sesuai dengan harapannya walaupun peserta yang hadir tidak sesuai kapasitas. Dan bagi PMR sendiri, acara ini dapat memberikan pengalaman kepada mereka tentang mengadakan Seminar dan juga memberi pengetahuan tentang HIV dan AIDS.

Diadopsi dari Majalah WIKARYA

Study Visit KIR SMAGA

April 14, 2009 by admin  
Filed under SMAGA Dalam Berita

Teman-teman tahu nggak kalau Subsie Karya Ilmiah Remaja SMA Negeri 3 Surakarta yang lebih kita kenal dengan Subsie KIR SMAGA baru saja mengadakan Study Visit KIR 2008 dengan daerah tujuan Bandung dan Jakarta.hhmm.. Penasaran kan gimana serunya Study Visit KIR 2008 ?? yuk simak terus liputan Wikz ..!!

Study Visit KIR 2008 yang kali ini diikuti oleh 40 siswa-siswi SMAGA berangkat pada hari Minggu, 21 Desember 2008 pukul 16.00 WIB dari SMAGA Lokasi Kerkop didampingi oleh dua orang guru yaitu Bapak Wardi dan Bapak Supriyanto.

Oh.. iya.. sebelum berangkat, bagi yang beragama Islam terlebih dahulu melaksanakan sholat Ashar di masjid Istiqomah SMAGA dan setelah semuanya siap, bus pun berangkat ke tempat tujuan.

Tempat yang pertama kali dituju ialah PT. PINDAD yaitu perusahaan milik negara yang bergerak di bidang pembuatan persenjataan militer. Setelah puas melihat-lihat dan menimba ilmu di PT PINDAD, perjalanan dilanjutkan ke Museum Geologi Bandung.

Dari Museum Geologi Bandung, rombongan langsung bertolak ke Kawah Putih Ciwidy pada sore harinya. Di sana, ternyata cuacanya berkabut dan dingin ( walahh .. ) Acara dilanjutkan dengan pengambilan film dan mengunjungi kebun strawberry.

Puas menikmati pemandangan alam, perjalanan diteruskan ke Cibaduyut yaitu sentral pembuatan sandal dan sepatu. Di Cibaduyut ini, rombongan Study Visit KIR 2008 dapat berbelanja oleh-oleh sepuasnya ( wahh .. ).
Dari Cibaduyut, rombongan menuju Wisma TELKOM untuk beristirahat melepasa lelah, makan dan sholat.

Selasa, 23 Desember 2008 pukul 07.00 WIB rombongan langsung bertolak kew Jakarta dengan tempat tujuan TMII, PT. IPTEK, Museum TELKOM dan PLANETARIUM.

Dari PLANETARIUM, rombongan Study Visit KIR 2008 mengakhiri perjalanannya kali ini dan kembali ke Solo. Sebelumnya, rombongan terlebih dahulu singgah di Purwakarta ( Subang ) untuk makan malam dan membeli oleh-oleh seperti Peyem.

Rabu, 24 Desember 2008 pukul 13.00 WIB tida di SMAGA Lokasi Kerkop dengan selamat ( hhaaahh.. akhirnya pulang juga.. ). Nach.. teman-teman, itu tadi liputan tentang Study Visit KIR 2008 yang seru sekaligus sarat ilmu pengetahuan dan pengalaman yang takkan terlupakan ( ciiyyeee.. ).

Diambil dari: Majalah WIKARYA

Ngono Yo Ngono, Ning Ojo Ngono

April 2, 2009 by admin  
Filed under Opini

Oleh: Muhammad Ifan

Jumat, 12 Desember 2008

Di Solo, SMAGA merupakan satu-satunya (mungkin) SMU negeri, yang paling banyak memiliki siswa yang berasal dari keturunan Tiong Hoa, diantara SMU negeri yang lain. Kota Solo sendiri, oleh sebagian pengamat sosial, dijuluki sebagai kota yang bersumbu pendek, gampang meledak. Julukan ini, dilatarbelakangi oleh serangkaian kerusuhan rasial, yang pernah melanda kota tersebut. Sebagai sebuah kota yang dianggap sebagai pusat kebudayaan jawa, julukan sumbu pendek ini sangat bertolak belakang dengan kelemahlembutan masyarakatnya, maupun kehalusan tutur kata mereka. Penyebab kerusuhan social tersebut, sangat komplek. Salah satu biang keladinya adalah,  berkembangnya pandangan negatif di sebagian besar masyarakat Jawa, atau yang dikenal sebagai sikap apriori, terhadap masyarakat keturunan Tionghoa.

Dahulu, saya juga pernah memiliki sikap apriori terhadap suku atau bangsa lain, utamanya, yang berasal dari keturunan Tiong Hoa. Saya memandang masyarakat keturunan Tionghoa, sebagai sebuah komunitas yang agresif dalam mencari rizqi, dengan, seringkali, mengabaikan etika bisnis, misalnya, saya menganggap bahwa, masyarakat tionghoalah yang menumbuhkan kultur suap menyuap di kalangan birokrasi. Kemudian, kesan eksklusif. Kesan ini menguat setelah saya menjalani pendidikan di SMAGA, dan melihat bahwa, sebagian besar teman-teman yang berasal dari keturunan tionghoa, memiliki kecenderungan untuk tidak berbaur ketika mereka bergaul.

Kebetulan, teman-teman tionghoa ini, memiliki kemapanan ekonomi lebih dibanding teman-teman yang berasal dari suku yang lain. Ini semakin memperkuat kesan eksklusif tersebut.  Saya juga meragukan kesetiaan masyarakat tionghoa terhadap Negara RI, karena melihat sebagian besar masyaratkatnya masih mempertahankan adat istiadat yang berasal dari negeri leluhurnya, Cina daratan. Juga, dalam sejarah pergerakan nasional, terutama pada fase perang kemerdekaan, hampir tidak ada tokoh yang berasal dari keturunan tionghoa. Lebih-lebih lagi, dengan peristiwa larinya pengusaha pengemplang BLBI ke Singapura, yang kebetulan keturunan tionghoa,

Pelan-pelan, seiring dengan berlalunya waktu, Alloh SWT mulai mendidik saya, meluruskan pandangan sempit saya, yang mungkin ada benarnya, tetapi juga sebagian besar, ternyata keliru. Belakangan, saya baru menyadari bahwa sikap saya, ternyata mengundang murka Alloh SWT, sebagai dzat yang menciptakan manusia, dengan berbagai suku bangsa, dengan maksud, untuk saling mengenal karakteristik masing-masing ciptaanNYA. Apriori terhadap ciptaanNYA, berarti juga apriori terhadap penciptanya. Saya sendiri, tidak bisa memilih, ketika Alloh SWT menakdirkan saya terlahir dari suku jawa. Semua suku bangsa, yang diciptakan Alloh SWT, memiliki karakteristik yang unik, plus maupun minus. Perilaku sebagian suku bangsa, tidak bisa digeneralisir sebagai perilaku suku bangsa tersebut seluruhnya, pars pra toto. Perilaku negatif sebagian suku bangsa, dipengaruhi oleh banyak factor eksternal, dan bukan bawaan dari suku tersebut, kecuali, kita menuduh bahwa Alloh SWT jahat, menciptakan suku bangsa dengan kelemahan bawaan. Alangkah beraninya tuduhan tersebut.

Ternyata, semua manusia berpotensi untuk menjadi chauvinis, narsis, tidak hanya masyarakat aria jerman, dengan nazinya, atau, yang sekarang sedang populer, kaum yahudi dengan gerakan zionismenya. Yang paling penting di mata Alloh SWT adalah, jalan hidup yang dipilih oleh masing-masing manusia ciptaanNYA, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, mulai dari yang bermata sipit sampai yang bermata melotot, mulai dari yang berkulit putih, sampai yang berkulit hitam. Seandainya manusia telah menjalani hidup di bawah langit sampai dengan usia 40 tahun, dan ternyata dia masih salah memilih jalan hidup, maka dia tidak boleh menyalahkan takdir. Empat puluh tahun di bawah langit adalah waktu yang cukup bagi manusia untuk mempelajari, menimbang, membandingkan, dan akhirnya, memilih jalan hidup terbaik guna menghabiskan sisa usia hidupnya.

Saatnya manusia meninggalkan sekat-sekat SARA. Ibarat Yamaha atau Honda, suku bangsa boleh berbeda, yang penting, ketika ditunggangi oleh valentine rossi (dulu), semua merk motor bisa menjadi juara. Tugas kita, mencari pembalap yang tepat, yang akan mengantar kita menjadi pemenang, di lintasan balap dunia yang hanya sebentar saja. Hidup yang singkat ini, ibarat kumpulan episode pagi dan sore hari, terlalu berharga bila hanya dihabiskan dalam sekat SARA..

Jalan Terjal Menuju Ikatan Alumni Yang Kuat

March 3, 2009 by admin  
Filed under Opini

Winarto 3 IPS 2 2000-2003

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya yang pertama. Sungguh ironis bahwasanya sebagai salah satu sekolah favorit di Surakarta, SMA 3 belum memiliki ikatan alumni yang kuat dan eksis. Wacana yang mengarah kesana telah ada, bahkan telah dimulai. Namun persoalah yang dihadapi adalah mempertahankan kesinambungannya.  

Setidaknya ada 2 pihak yang bertanggungjawab terhadap eksistensi ikatan alumni ini, yaitu alumni itu sendiri dan pihak sekolah. Mengapa? Sebab ada hubungan mutualisme yang akan terjalin di antara kedua pihak tersebut apabila ikatan alumninya eksis. Ikatan batin alumni dengan almamaternya pastilah ada, dan inilah yang menciptakan rasa tetap memilikinya.

Untuk itulah, ide untuk menciptakan ikatan alumni yang eksis harus diwujudnyatakan. Kegagalan-kegagalan masa lalu perlu dimaknai sebagai sebuah pembelajaran. Tidak ada yang tidak bisa dan tidak ada yang tidak mungkin. Maka itu komitmen yang kuat perlu dimiliki oleh alumni SMA 3 untuk dapat membentuk ikatan alumni yang kuat.

Bagaimana untuk memulainya? Dalam salah satu conference di Yahoo Messenger, saya mengungkapkan setidaknya dalam jangka pendek ini Ikatan Alumni SMA 3 perlu memiliki program-program yang harus dijalankan yaitu maintenance website and milis alumni sebagai media resmi alumni, program beasiswa dan menjalin komunikasi dengan SMA 3 untuk saling bertukar informasi aktual.

Kalau program-program itu berjalan dan terus berkesinambungan, bisa menjadi sebuah titik balik untuk Ikatan Alumni SMA 3. Untuk memulainya, saya mencoba mendesain website wikarya di alamat www.wikarya.jangkang.org, untuk kemudian dimintakan saran dan pendapat dari alumni lain. Ternyata, ada alumni, yaitu Mas Cucuk, telah membeli domain di www.wikarya.org. Di alamat itu nantinya akan ditampilkan berbagai macam informasi, pengumuman, profil dan informasi lainnya baik terkait alumni maupun SMA 3.

Program beasiswa yang telah berjalan sejak 1999 perlu terus dijalankan dan disebarluaskan. Dari keterangan Mas Hengky, masih sedikit alumni yang mengambil peran dan berkontribusi, dari 100 orang hanya 10 orang yang berkontribusi di program beasiswa ini. Padahal, apabila dipikir secara sederhana, jika setiap bulan seorang alumni berkontribusi minimal Rp 50.000,00 (limapuluh ribu rupiah) dan diasumsikan 500 orang yang berperan, setiap bulan bisa memperolah Rp 25.000.000,00 (Dua puluh lima juta rupiah). Dengan uang sebesar itu, misalkan uang SPP setiap bulan Rp 100.000,00 maka bisa membantu 250 siswa.

Namun, memang jalan terjal itu masih perlu didaki. Bagaimana tidak, jika hal itu sudah dipelopori sejak 1999, namun masih sedikit yang berperan serta, padahal tidak bosan-bosannya dikumandangkan di berbagai milis-milis per angkatan di SMA 3.  

Tetapi, masih ada harapan. Dengan program jangka pendek itu, diharapkan informasi-informasi itu dapat semakin tersebar luas dengan dukungan teknologi saat ini. Alumni yang berdomisi di berbagai provinsi maupun di luar negeri jika mengetahui informasi ini, selama mereka mau berkontribusi, tidak ada alasan lagi karena jarak, waktu ataupun komunikasi. Tinggal mau atau tidak. Di Amerika Serikat sekalipun kalau pun mereka mau, teknologi yang ada saat ini sangat memungkinkan untuk berkontribusi dalam program-program kegiatan Ikatan Alumni SMA 3 Surakarta.

Akhirnya, ini sebuah langkah awal yang perlu didukung oleh segenap alumni SMA 3. Dan dengan dukungan dan peran serta bersama, tidak ada yang tidak mungkin, tinggal mau atau tidak.

Siapakah Guru Favorit Teman-Teman Semasa SMA?

March 3, 2009 by admin  
Filed under Opini

Masa SMA adalah masa yang indah dan penuh kenangan. Tentu teman-teman memiliki guru favorit dong. Di kesempatan ini silahkan teman-teman mengungkapkan siapakah guru terfavorit Anda dan mengapa memilihnya.

Jangan Lupa, sertakan Nama Kelas Terakhir dan Angkatan SMAGA

Widya Karma Jaya

Ikatan Alumni SMA 3 saat ini

February 27, 2009 by admin  
Filed under Forum Kita

Sudah menjadi perhatian dan bahan diskusi yang sangat lama mengenai keberadaan ikatan alumni SMA 3 Surakarta. Ada banyak alumni namun sangat sedikit yang peduli. Banyak perbincangan yang dilakukan baik melalui milis ataupun media yang lain untuk membentuk wadah bagi alumni, namun masih mental atau bisa dibilang hanyalah sekedar wacana.

Kalau ingin ditelisik, sebenarnya apa yang menjadi permasalahan untuk mewujudkan wadah itu? tidak ada komunikasi? Kurang komitmen? atau permasalahan yang lain?

Silahkan berdiskusi di forum ini.

Salam Widya Karma Jaya

Next Page »