PSSI LEBIH KEJAM DARI SEKEDAR IBU TIRI

March 30, 2010 by damashsuryasund  
Filed under Alumni Aggregator

Knowledge Management in Multinational Subsidiary in Indonesia: A lesson learned

March 30, 2010 by Yanuar Nugroho  
Filed under Alumni Aggregator

Catatan Kecil Earth Hour dan Gaya Hidup

March 28, 2010 by Winarto  
Filed under Alumni Aggregator

Sabtu malam 27 Maret 2010 pukul 20.30-21.30 LT, program Earth Hour dilaksanakan. Program yang dirancang guna menekan laju perubahan iklim global dan dimulai sejak tahun 2007 ini digagas oleh World Wide Fund for Nature (WWF). Seperti apa respon masyarakat terhadap program yang mengkampanyekan mematikan lampu dan alat-alat listri selama satu jam tersebut?
Rekaman Tempointeraktif mengatakan bahwa [...]

Mengasah Kekuatan Tangan, Pikiran dan Hati

March 28, 2010 by Winarto  
Filed under Alumni Aggregator

Kelas Menulis Jurnalisme Warga, itulah judul kegiatan yang dimotori oleh Sloka Institute sebagai Lembaga Pengembangan Media, Jurnalisme dan Informasi.Tema yang diangkat pada kegiatan tersebut adalah “Gunakan Kekuatan Tanganmu!”. Kekuatan tangan itu bukanlah untuk menggampar atau bertinju, melainkan untuk menulis ala jurnalisme warga. Demikian juga tidak berarti hanya dengan mengandalkan kekuatan tangan saja, namun dalam menulis [...]

Kecil Tapi Besar

March 23, 2010 by Winarto  
Filed under Alumni Aggregator

Tentu masih ingat dengan koin cinta untuk Prita. Aksi yang terjadi pada akhir tahun 2009 tersebut terbukti telah mampu membuktikan bahwa sesuatu yang dianggap kecil atau sepele oleh seseorang, akan memiliki makna yang sangat besar jika dilakukan secara kolektif. Bagaimana tidak, sebuah koin seratus rupiah, yang seringkali dianggap kecil dan ditemukan terbuang di pinggir jalan, [...]

Jadi Pahlawan Dengan Berdiam

March 22, 2010 by Winarto  
Filed under Alumni Aggregator

Inspirasi Nyepi
Memasuki bulan Maret 2010, dapat disebut sebagai bulan hening, terutama di Bali. Mengapa disebut demikian? Setidaknya ada 3 kegiatan yang bertema diam atau hening (silent).
Selasa, 16 Maret 2010. Kegiatan hening pertama adalah Nyepi, yang sebenarnya berhubungan dengan hari besar agama Hindu dalam menyambut tahun baru Saka 1932.
Namun, kegiatan ini memiliki makna yang mendalam ketika [...]

Auto GP dan BOSS GP: Dua Balapan Unik Baru

March 22, 2010 by TSUGAMU  
Filed under Alumni Aggregator

A

Superblok

March 21, 2010 by albert  
Filed under Alumni Aggregator

Tiap hari Minggu pagi, ada tayangan di TV yang mengiklankan berbagai hunian di ibukota. Belakangan ini (atau sudah lama sebetulnya, saya saja yang baru tahu) kata “superblok” sering muncul. Apa sih superblok itu? Dari apa yang saya dengar di tayangan itu, superblok adalah suatu konsep tata ruang yang berusaha menyatukan atau mendekatkan ruang residensial, komersial, dan perkantoran dalam satu area.

Saya jadi ingat ketika bertahun2 yang lalu saya sering memainkan game SimCity. Game SimCity menantang kita untuk menata sebuah kota dengan segala kelengkapan dan permasalahannya. Saya masih ingat, area kota dibedakan menjadi 3: residensial (area tempat tinggal), komersial (area perdagangan dan pertokoan), dan industrial (area untuk industri). Pemain diminta untuk mengatur peletakan area2 tersebut di dalam bidang permainan yang tersedia. Tentu saja, nantinya pemain juga diminta untuk mengatur peletakan jalan raya dan berbagai sarana umum lainnya, tapi menurut saya, kunci keberhasilan dalam menata kota pada game SimCity ini adalah pengaturan area kota tadi.

Saya bukan ahli tata ruang. Saya bahkan bekerja di bidang yang sama sekali berjauhan dengan soal tata ruang. Namun saya paham, bahwa tata ruang sebuah kota dapat mempengaruhi nyaman tidaknya sebuah kota untuk didiami. Kemacetan jalan, permukiman yang terlampau padat, adanya area yang terlalu sepi dan area yang terlalu ramai, menunjukkan ada yang salah dalam tata ruang. Tata ruang yang tidak terencana menimbulkan adanya perubahan penggunaan area secara mendadak. Area yang tadinya adalah area residensial, mendadak berubah menjadi area komersial. Biasanya perubahan ini ditandai dengan menjamurnya ruko (di mana peran “ko” alias toko lebih besar ketimbang peran “ru” atau rumah, karena bangunan ruko tersebut kebanyakan tidak ditinggali, sekedar jadi tempat berdagang) di area tersebut.

Kita tentunya mengamati, hampir di semua kota, arus lalu lintas amat padat saat pagi hari (saat anak2 berangkat sekolah dan para pekerja berangkat bekerja) dan sore hari (saat mereka semua pulang). Tata ruang yang kurang terencana, mengakibatkan arus lalu lintas yang saling silang. Ada yang tinggal di area utara kota, bekerja di area selatan kota. Ada yang sebaliknya. Ada yang tinggal di tengah kota, bekerja di area timur kota. Macam2. Akibatnya, semua arus lalu lintas itu bertemu di tengah kota, menimbulkan kemacetan. Waktu, tenaga, bahan bakar terbuang. Tidak jarang juga membuat orang saling marah. Orang makin lelah di jalan. Banyak jalur lingkar pinggir kota dibuat. Desakan untuk menggalakkan penggunaan sarana transportasi publik terus disuarakan. Tapi ini tidak mudah. Arus lalu lintas terlanjur kusut.

Superblok, ditawarkan oleh para pengembangnya sebagai jawaban atas ketidaknyamanan ini. Menyatukan berbagai jenis area tadi (residensial, perkantoran, dan komersial) dipandang sebagai alternatif solusi. Orang dapat tinggal, bekerja, dan berbelanja berbagai kebutuhan di area yang sama. Transportasi yang dibutuhkan amat minim, kalo tidak bisa dibilang tidak ada. Tidak ada lagi waktu yang diperlukan untuk bermacet ria di jalanan.

Yang saya lihat dari superblok ini adalah, pada akhirnya orang kembali pada kondisi zaman dulu, tinggal di area yang tidak begitu luas, saling berdekatan, semua kebutuhan relatif terjangkau. Hidup di area yang terlalu luas, di mana berbagai sarana terpencar jauh satu sama lain, tidak lagi nyaman. Ukuran kota yang sudah meraksasa, kembali “dikecilkan” dengan superblok. Superblok dipandang sebagai kota tersendiri dan mandiri.

Mungkin saja, alternatif solusi superblok ini bisa menjawab ketidaknyamanan warga kota. Mungkin. Sayangnya, berbagai hunian superblok yang ditawarkan, diberi label harga yang amat jauh dari jangkauan rakyat banyak.

Catatan: saya tidak dibayar sepeserpun oleh siapapun, termasuk pengembang superblok :)

diminta memberikan diri

March 20, 2010 by anto  
Filed under Alumni Aggregator

menulis itu kegiatan yang saya jalani dengan jatuh bangun. saya bukanlah penulis, meski pun pekerjaan saya meminta untuk justru harus banyak menulis. saya menjalani kegiatan itu dengan derita, meski juga mendatangkan kelegaan sesudahnya. tidak mudah untuk menyendiri, mengucil dari berbagai rangsangan indera [itu dia ternyata soalnya]. menulis itu seperti tindakan heroik untuk hanya melulu sendirian [...]

Lagi, Belajar Dari Kasus Ibnu Rachal

March 20, 2010 by Winarto  
Filed under Alumni Aggregator

Motto Internet Sehat “Wise While Online, Think Before Posting” perlu terus dikampanyekan ke semua pihak mengingat telah banyak kejadian yang muncul dan dinilai sebagai dampak negatif akibat penyalahan internet dan jejaring sosial. Kejadian yang masih segar dan fresh adalah kasus Ibnu Rachal Farhansyah di kala hari raya Nyepi, hari Selasa lalu. Status yang ditulis Ibnu [...]

Next Page »