Ngono Yo Ngono, Ning Ojo Ngono
Oleh: Muhammad Ifan
Jumat, 12 Desember 2008
Di Solo, SMAGA merupakan satu-satunya (mungkin) SMU negeri, yang paling banyak memiliki siswa yang berasal dari keturunan Tiong Hoa, diantara SMU negeri yang lain. Kota Solo sendiri, oleh sebagian pengamat sosial, dijuluki sebagai kota yang bersumbu pendek, gampang meledak. Julukan ini, dilatarbelakangi oleh serangkaian kerusuhan rasial, yang pernah melanda kota tersebut. Sebagai sebuah kota yang dianggap sebagai pusat kebudayaan jawa, julukan sumbu pendek ini sangat bertolak belakang dengan kelemahlembutan masyarakatnya, maupun kehalusan tutur kata mereka. Penyebab kerusuhan social tersebut, sangat komplek. Salah satu biang keladinya adalah, berkembangnya pandangan negatif di sebagian besar masyarakat Jawa, atau yang dikenal sebagai sikap apriori, terhadap masyarakat keturunan Tionghoa.
Dahulu, saya juga pernah memiliki sikap apriori terhadap suku atau bangsa lain, utamanya, yang berasal dari keturunan Tiong Hoa. Saya memandang masyarakat keturunan Tionghoa, sebagai sebuah komunitas yang agresif dalam mencari rizqi, dengan, seringkali, mengabaikan etika bisnis, misalnya, saya menganggap bahwa, masyarakat tionghoalah yang menumbuhkan kultur suap menyuap di kalangan birokrasi. Kemudian, kesan eksklusif. Kesan ini menguat setelah saya menjalani pendidikan di SMAGA, dan melihat bahwa, sebagian besar teman-teman yang berasal dari keturunan tionghoa, memiliki kecenderungan untuk tidak berbaur ketika mereka bergaul.
Kebetulan, teman-teman tionghoa ini, memiliki kemapanan ekonomi lebih dibanding teman-teman yang berasal dari suku yang lain. Ini semakin memperkuat kesan eksklusif tersebut. Saya juga meragukan kesetiaan masyarakat tionghoa terhadap Negara RI, karena melihat sebagian besar masyaratkatnya masih mempertahankan adat istiadat yang berasal dari negeri leluhurnya, Cina daratan. Juga, dalam sejarah pergerakan nasional, terutama pada fase perang kemerdekaan, hampir tidak ada tokoh yang berasal dari keturunan tionghoa. Lebih-lebih lagi, dengan peristiwa larinya pengusaha pengemplang BLBI ke Singapura, yang kebetulan keturunan tionghoa,
Pelan-pelan, seiring dengan berlalunya waktu, Alloh SWT mulai mendidik saya, meluruskan pandangan sempit saya, yang mungkin ada benarnya, tetapi juga sebagian besar, ternyata keliru. Belakangan, saya baru menyadari bahwa sikap saya, ternyata mengundang murka Alloh SWT, sebagai dzat yang menciptakan manusia, dengan berbagai suku bangsa, dengan maksud, untuk saling mengenal karakteristik masing-masing ciptaanNYA. Apriori terhadap ciptaanNYA, berarti juga apriori terhadap penciptanya. Saya sendiri, tidak bisa memilih, ketika Alloh SWT menakdirkan saya terlahir dari suku jawa. Semua suku bangsa, yang diciptakan Alloh SWT, memiliki karakteristik yang unik, plus maupun minus. Perilaku sebagian suku bangsa, tidak bisa digeneralisir sebagai perilaku suku bangsa tersebut seluruhnya, pars pra toto. Perilaku negatif sebagian suku bangsa, dipengaruhi oleh banyak factor eksternal, dan bukan bawaan dari suku tersebut, kecuali, kita menuduh bahwa Alloh SWT jahat, menciptakan suku bangsa dengan kelemahan bawaan. Alangkah beraninya tuduhan tersebut.
Ternyata, semua manusia berpotensi untuk menjadi chauvinis, narsis, tidak hanya masyarakat aria jerman, dengan nazinya, atau, yang sekarang sedang populer, kaum yahudi dengan gerakan zionismenya. Yang paling penting di mata Alloh SWT adalah, jalan hidup yang dipilih oleh masing-masing manusia ciptaanNYA, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, mulai dari yang bermata sipit sampai yang bermata melotot, mulai dari yang berkulit putih, sampai yang berkulit hitam. Seandainya manusia telah menjalani hidup di bawah langit sampai dengan usia 40 tahun, dan ternyata dia masih salah memilih jalan hidup, maka dia tidak boleh menyalahkan takdir. Empat puluh tahun di bawah langit adalah waktu yang cukup bagi manusia untuk mempelajari, menimbang, membandingkan, dan akhirnya, memilih jalan hidup terbaik guna menghabiskan sisa usia hidupnya.
Saatnya manusia meninggalkan sekat-sekat SARA. Ibarat Yamaha atau Honda, suku bangsa boleh berbeda, yang penting, ketika ditunggangi oleh valentine rossi (dulu), semua merk motor bisa menjadi juara. Tugas kita, mencari pembalap yang tepat, yang akan mengantar kita menjadi pemenang, di lintasan balap dunia yang hanya sebentar saja. Hidup yang singkat ini, ibarat kumpulan episode pagi dan sore hari, terlalu berharga bila hanya dihabiskan dalam sekat SARA..


benar sekali . .
mari kita tetap rangkul sesama manusia . . .
saya memandang keturunan tersebut emng perlu dikasih trigger dl . . . . sebenernya meraka suka bergaul dengan sapa aja cuman karena kitanya udah ngrasa g enak dluan sih . .
coba pake trik jitu, pasti bisa!!! dan ternyata mereka lebih friendly loh . .