AADC : Do You Know Maria Ozawa?
February 28, 2009 by why I love my world,,
Filed under Alumni Aggregator
Tentang The Sisterhood of AADC bisa dibaca di postingan yg ini).
Alkisah pada tahun 2006, The Sisterhood of AADC (Diana, Tri, Imbi, Bunga dan gw) akan bermalam panjang di rumah Diana Sabidi. Rencananya kami berlima akan membuat Pajamas Party all by our self, dalam rangjka open house rumah barunya diana di Sawangan nun jauh disana,,
Sayangnya pada saat hari yang telah ditentukan telah tiba, Bunga tidak bisa ikut karena dia ada satu dan lain hal.. Jadilah hanya tinggal kita berempat
Perlengkapan yang dibawa
- MAKANAN,,MAKANAN,, dan MAKANAN
- Pengennya sih bikin Lingerie/Pajamas party, tapi apa daya gak punya, jadi cukup Daster-Batik-Party ajah,,
- Cemilan untuk bergadang semalam suntuk : chips, chocolate, pokoknya full snack yg enak-enak dan bikn gendut,,
- Mungkin karena malam terakhir, jadi malam itu ada sedikit perbedaan dibanding sebelumnya karena salah satu teman gw memba…
Ikatan Alumni SMA 3 saat ini
February 27, 2009 by admin
Filed under Forum Kita
Sudah menjadi perhatian dan bahan diskusi yang sangat lama mengenai keberadaan ikatan alumni SMA 3 Surakarta. Ada banyak alumni namun sangat sedikit yang peduli. Banyak perbincangan yang dilakukan baik melalui milis ataupun media yang lain untuk membentuk wadah bagi alumni, namun masih mental atau bisa dibilang hanyalah sekedar wacana.
Kalau ingin ditelisik, sebenarnya apa yang menjadi permasalahan untuk mewujudkan wadah itu? tidak ada komunikasi? Kurang komitmen? atau permasalahan yang lain?
Silahkan berdiskusi di forum ini.
Salam Widya Karma Jaya
Study Tour Siswa RSBI
February 26, 2009 by admin
Filed under SMAGA Dalam Berita
Pada tanggal 4 – 7 januari 2009 siswa kelas X program RSBI mengadakan study tour ke Jakarta, para siswa mengunjungi beberapa objek, seperti Universitas Indonesia, Kedubes Australia, Gedung DPR -MPR RI, dan Dunia Fantasi. Pada dasarnya, hanya objek-objek tersebut yang akan dikunjungi namun beberapa perubahan jadwal dan sedikit kelonggaran waktu, kami mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah.
Pada hari pertama, kami check in Hotel Plaza Mangga Dua dan dilanjutkan sarapan di Mall Mangga Dua, kemudian para siswa melanjutkan perjalanan menuju Taman Mini Indonesia Indah hingga waktu makan siang di Anjungan Yogyakarta. Pada pukul 13.00 WIB para siswa menuju Kampus Universitas Indonesia, Depok, untuk mendapatkan beberapa penjelasan tentang seluk beluk UI. Para siswa dapat bertanya secara langsung kepada ketua panitia penerimaan mahasiswa baru, tentang gambaran lingkungan UI.
Setelah puas berkeliling di UI pada pukul 15.30 WIB, para siswa melanjutkan tour menuju Pusat Grosir Cililitan sekedar untuk berbelanja dan mencari buah tangan. Pada pukul 18.30 WIB, rombongan mengakhiri perjalananya hari pertama dengan makan malam di Pandan Hijau Resto dan kembali ke hotel.Hari selanjutnya, rombongan menuju ke Kedubes Australia dan Gedung DPR- MPR RI dan sekaligus check out hotel.
Karena waktu untuk berkunjung kebetulan bersamaan, para siswa dibagi dalam dua kelompok dan setiap siswa bebas memilih tempat tujuan mereka. Kelompok pertama berkunjung ke Kedubes Australia dan kelompok kedua berkunjung ke Gedung DPR- MPR RI. Pada pukul 17.45 WIB, siswa bersiap untuk perjalanan pulang keKampus Biru. Sebelum pulang, para siswa makan malam bersama dan mampir di sebuah pasar pusat oleh-oleh di daerah kota Purwakarta. Setelah puas membeli “jajanan”, rombongan istirahat di bus masing-masing hingga perjalanan usai.Akhirnya siswa tiba di SMA 3 Surakarta lokasi Wamir tepat pada pukul 09.00 WIB, kemudian kembali kerumah masing-masing .
Lowongan Operator Produksi di Bekasi
Informasi Kerja PT BVP
Lowongan Kerja Production Operator
We are a flexible plastic packaging and rotogravure printing industry, seeking of candidates to fill-in the following position:
- Sales & Marketing Dept. (Position : Mgr, Spv)
- Production Dept. (Postion : Spv & Operator)
- HR Dept (Position : Spv & Admin)
- Utility & Maintenanance (Engineer)
- QC & QA Dept (Mgr, SPV & Inspector)
- Receptionist
- GA Officer
- Logistic Supervisor
Requirements:
- Candidate must possess at least SLTA (Operator) and D3,
- Required language(s): English, Bahasa Indonesia (Mgr, Receptionist),
- At least 5 year(s) of working experience in the related field is required for this position (Mgr),
- Experience working in Manufacturing & plastic (flexible packaging & rotogravure printing) industry would be a plus factor,
- SIM A/Driving license holder (GA Officer)
- Location : Cikarang, Bekasi
Pls send your application letter and CV by post before Feb. 27, 2009 to:
HR Dept.
PT BVP
Jl. Inti Raya Blok C3 No. 11
Kawasan Industri Hyundai, Lippo Cikarang
Bekasi - 17550
Sosok Dahsyat Tung Desem Waringin
February 26, 2009 by admin
Filed under Profil Alumni
Langit di Serang Banten tidak mendung, namun akan terjadi “hujan”. Demikianlah yang terjadi di sana. Bukan hujan air, namun hujan uang senilai 100 (seratus juta rupiah). Seseorang berinisiatif melakukan hal tersebut dari atas helikopter. Ini bukanlah sebuah adegan film, namun benar-benar terjadi. Adalah Tung Desem Waringin, salah satu motivator Indonesia yang memiliki slogan “salam dahsyat” inilah aktor di balik hujan uang 100 juta di Serang Banten itu.
Rekans alumni SMA 3, tahukah teman-teman bahwa Tung Desem Waringin (TDW) merupakan alumni sekolah dengan motto ”Widya Karma Jaya” itu? Ya, kalaupun belum banyak yang tahu, informasi ini tentu akan sedikit membuka wacana teman-teman mengenai Tung Desem Waringin. Pria kelahiran Solo, 22 Desember 1967 ini pernah menempuh pendidikan di SMP Bintang Laut Solo. Setelah lulus SMP, TDW melanjutkan pendidikan ke SMA NEGERI 3 Solo. Melanjutkan kuliah S1 di Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret Solo, TDW merupakan mahasiswa teladan yang berhasil menjadi juara lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional, juara cepat tepat P4 tingkat Propinsi Jawa Tengah serta prestasi-prestasi lainnya).
Prestasi tersebut tidak terhenti begitu saja. Tung Desem Waringin adalah Pelatih Sukses No. 1 di Indonesia (Majalah Marketing) dan masuk dalam salah satu tokoh The Most Powerful People & Ideas in Business 2005 (Majalah SWA). Sebagai pembicara, Tung Desem Waringin telah berbicara lebih dari 100,000 orang di Dunia.
TDW pernah berkarir di BCA pada Agustus 1992- Mei 2000, dari Lulusan Terbaik Management Development Program BCA sampai menjadi Pemimpin Cabang Utama BCA Borobudur Malang dengan catatan prestasi sebagai berikut:
- Mengubah hasil audit dari terjelek seluruh Indonesia menjadi terbaik seluruh Indonesia di BCA Surabaya 1994, BCA Semarang 1995, BCA Malang 1997.
- Meningkatkan pertumbuhan pemegang kartu ATM BCA di BCA Malang, dari no 7 se-Indonesia menjadi nomer 1 Se-Indonesia.
- Menang Kliring dan Pulih pertama sejak di BCA di rush di bulan Mei 1998.
- Tingkat mati mesin ATM terendah seluruh Indonesia selama 5 bulan berturut Januari-Mei 2000.
- Pertumbuhan Kartu Kredit terbesar seluruh Indonesia April- Mei 2000.
Pada Juni 2000- Februari 2001, TDW bekerja sebagai Senior Vice President Marketing & Customer Care di LippoShop dengan catatan prestasi yang cukup gemilang pula, yaitu satu hari marketing, memenuhi order sebulan dan sejak menangani Customer Care Desember 2000-Januari 2001 semua komplain tertangani dengan baik. LippoShop tidak pernah di komplain masuk koran lagi.
TDW kemudian terkenal sebagai seorang konsultan/trainer terkemuka. Sebagai konsultan perusahaan, TDW berhasil meningkatkan pendapatan dari sebuah Media Iklan Gratis di Jakarta sebesar 16 kali lipat dalam waktu 1 bulan. Meningkatkan 100% penjualan di “MANET” Toko Busana Muslim di Tanah Abang. Meningkatkan 100% Aset Bank Lestari di Jl. Teuku Umar 121 Denpasar Bali & 2000% kredit sepeda motornya di Bali. Lebih lanjut, berhasil meningkatkan penjualan rata-rata sebesar 40% dari total 9.800 Sales dari Columbia Elektronik dan Furnitur, hanya dalam sebulan setelah training dilakukan. Sales shampoo Selsun naik 200%. Membuat Perusahaan Properti Coldwell Banker Sigit Tangerang Menjadi Top Office selama 3 Bulan berturut - turut, penjualan di Millenium Handphone & Accessories naik 500%. Meningkatkan penjualan Gapura Prima Group (The Bellezza, Bellagio) 400% hanya dalam waktu 1 bulan setelah training dilakukan.
Sebagai Konsultan pribadi, TDW membantu merubah orang menjadi percaya diri, menyembuhkan orang trauma, phobia, bulimia, menghentikan kebiasaan merokok, membantu orang gemuk menjadi langsing, membuat breakthrough sukses mulai dari anak petani sampai anak mantan Presiden Indonesia, dari lulusan SD sampai lulusan Doktor, juga Top Eksekutif dan Selebritis. Untuk hal ini TDW ditempatkan di peringkat tertinggi di Majalah Pilar Bisnis edisi November 2002 sebagai ”Pelatih yang mampu merubah CEO atau Top Eksekutif menjadi Lebih Hebat lagi”.
Penghargaan lain diperoleh TDW dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada Oktober 2005. TDW mampu memecahkan rekor MURI untuk Penjualan buku “Financial Revolution” Yang mencapai 10.511 eksemplar di hari pertama secara retail. Tidak berhenti disana, pada Juli 2008, TDW tercatat di MURI untuk ”Buku Terlaris di Indonesia yang Laku 38.878 Buku di Hari Pertama Peredarannya”; ”Buku Marketing Pertama di Dunia yang Waktu Launching Diliput Lebih dari 125 Mass Media dari Lima Benua secara gratis”; ”Buku yang di Launching dengan Cara Terunik di Dunia melalui Hujan Uang”; serta ”Buku Pertama di Dunia yang Punya Nilai Tambah 5 CD Audio + 2 Tiket Seminar 3 Hari”.
Ketika Aku SMA
Apa yang teman-teman lakukan ketika masa sekolah di SMA 3 Surakarta
1. Pacaran?
2. Nakal?
3. Ramai di kelas?
Lainnya…….?
Forum: All About SMAGA
February 26, 2009 by admin
Filed under Forum Kita
Berikan komentar teman-teman mengenai almamater kita tercinta, SMA 3 Surakarta!
Eksistensi Ikatan Alumni: Merintis dan Mempertahankan Kelangsungannya
Untuk Almamaterku SMU 3 Surakarta
Widya Karma Jaya
Selama hampir dua minggu ini, terjadi diskusi yang menarik milis alumni SMU Negeri 3 Surakarta. Bermula dari sebuah postingan oleh salah seorang anggota mengenai sejarah konflik Israel-Palestina. Oleh anggota yang lain menyatakan tidak setuju dengan postingan itu karena “berbau SARA”. Sebagai salah satu anggota milis itu, dalam kacamata penulis memang bernuansa SARA dan tidak cocok untuk diposting di milis alumni itu khususnya.
SMU N 3 Surakarta, dalam tumbuh dan berkembangnya dikenal sebagai salah satu sekolah favorit di Kota Surakarta, juga dikenal sebagai salah satu sekolah yang dihuni oleh beragam suku bangsa yang berbeda-beda dan dengan berbagai perbedaan-perbedaan yang memperkaya. Dengan motto Widya Karma Jaya, yang berarti unggul dalam ilmu dan perbuatan, sekolah ini telah mencapai usia emas.
Kembali ke persoalan diskusi di milis. Penulis mencoba untuk menggali banyak informasi dari kakak angkatan yang sudah lama bergabung di milis itu pasca “komplain” postingan di milis. Sebagai anggota baru, mencoba mencari informasi mengenai komunitas alumninya adalah sesuatu hal yang wajar. Pertanyaan pertama mengenai etika bermilis yang ada diberlakukan di milis alumni SMU 3 itu. Ada yang mengatakan bahwa ketika milis ini dibangun, memang ada etika yang diberlakukan seperti tidak memposting hal-hal yang berbau SARA ataupun “saru”.
Muncul pula tanggapan dari dari anggota yang lain dan menyatakan bahwa postingan mengenai sejarah itu tidak berbau SARA bahkan ada yang memasukkan lagi sejarah dari sisi lain konflik Israel Palestina, jelas berbeda dengan postingan sejarah yang pertama. Terdapat pula usulan mengenai postingan di milis itu untuk tetap dibiarkan berjalan apa adanya, jika memang berkenan dibaca, jika tidak berkenal tinggal di-delete.
Dalam salah satu tanggapan penulis di milis itu, memberikan contoh mengenai etika bermilis dari milis alumni SMU 3 yang lain, hingga pertanyaan sejarahnya apakah alumni SMU ini pecah sehingga harus memiliki dua milis. Usut punya usut ada yang memberikan cerita sejarahnya mengapa ada dua milis itu dan ternyata masih ada banyak, milis lain yang terkait dengan alumni SMU 3 Surakarta, terutama yang mengatasnamakan angkatan. Di sela-sela “debat” itu ada yang mengungkapkan tidak masalah banyak milis, bahkan akan semakin menambah dan mempertahankan perbedaan dan keanekaragaman SMU 3 Surakarta, serta tidak perlu membatasi postingan di milis, biarkan individu masing-masing yang membatasi. Kalau pun ada postingan yang tidak berkenan di hati anggota tinggal dihapus dari inbox, hingga ada yang guyonan akan membuat milis baru lagi dengan kriteria umur, angkatan muda, angkatan tua, daerah asal dan usul-usul nyleneh lainnya.
Stop di sana cerita awal mula tulisan ini. Point of view yang ingin dikupas adalah mengenai eksistensi alumni dalam keberlangsungan suatu lembaga pendidikan, khususnya SMU 3 Surakarta. Berdasarkan milis-milis yang telah dibangun dan berkaitan dengan alumninya, tergambar bahwa alumni SMU 3 masih bergerak tak beraturan dan belum terstruktur. Salah satu anggota mengatakan bahwa ide awal dibangun milis ini adalah untuk “ngumpulke balung pisah”, yang bermakna dengan milis ini diharapkan alumni SMU 3 yang tersebar di segenap penjuru dalam berkumpul dan berkomunikasi dalam media milis tersebut.
Terungkap pula bahwa melalui milis ini ada ide untuk memberikan beasiswa untuk adik-adik angkatan yang mengalami kesulitan pendanaan untuk sekolah. Great idea. Namun, dalam perjalanannya, meskipun hal tersebut telah terlaksana, namun gerakannya masih tak beraturan, tak terorganisasi. Alumni SMAGA (sebutan SMU/SMA 3 Surakarta), belum memiliki konsep, program dan goal yang jelas dalam keinginannya untuk berkontribusi bagi almamaternya.
Secara usia sekolah, SMAGA telah melewati ulang tahun ke-50, namun alumninya belum bergerak secara beraturan, padahal alumni SMAGA memiliki kekuatan dan potensi yang sangat melimpah dan masih bisa menghasilkan sesuatu yang lebih optimal. Lalu, apa yang harus dilakukan sekarang? Apakah di mata alumni telah puas dengan aktivitas dan hasil yang telah dicapai selama ini?
Perlu digali lebih dalam. Dalam pengamatan penulis selama ini, memang keberadaan ikatan alumni SMAGA masih sangat minim informasi, baik dalam hal aktivitas maupun organisasinya. Mengetahui keberadaan milis SMAGA ini pun dari sebuah pencarian di search engine. Teman-teman alumni yang lain bisa dikategorikan sebagai kelompok yang tidak tahu mengenai milis tersebut ataupun kelompok yang tidak mau bergabung. Namun kelompok yang kedua ini, mungkin hanyalah sangat kecil prosentasenya. Kebanyakan dikarenakan sangat minim informasi sehingga usaha mengumpulkan “balung” tadi masih terengah-engah. Bagaimana tidak, dari kedua milis alumni SMAGA tersebut hanya memiliki dua sampai tiga ratusan anggota, jika dibandingkan dengan jumlah alumni SMAGA.
Bolehlah kalau dulu masih terkendala dalam hal komunikasi, telepon dan internet masih dimiliki kalangan terbatas, namun bagaimanapun sekarang tidak bisa dipungkiri, internet maupun telepon telah menjadi nafas dan kebutuhan pokok manusia, meskipun masih ada orang/masyarakat yang belum mengenal ataupun sulit untuk mengaksesnya. Namun, jika dibandingkan beberapa tahun yang lalu, perkembangan sistem telekomunikasi dan informasi telah berkembang pesat dan cepat.
Untuk lebih memantapkan perjuangan dan pergerakan alumni SMAGA, perlu dilakukan langkah-langkah untuk lebih menunjukkan kiprahnya dalam melakukan upaya mengumpulkan “balung sing pisah” dan berkontribusi untuk almamaternya. Alumni perlu melembaga dalam satu ikatan yang jelas struktur, program maupun aktivitas yang dilakukan. Dengan melembaga, maka akan ada kejelasan program-program yang hendak dilakukan serta dalam lebih dipertanggungjawabkan.
Jika ikatan alumni SMAGA memiliki struktur kepengurusan, program-program serta aktivitas-aktivitas yang jelas, apa yang akan diperoleh? Cobalah berimajinasi. Ambil contoh, tujuan ikatan alumni ini paling tidak ide untuk mengumpulkan “balung pisah” dan berkontribusi ke almamater. Jika ada struktur dan program yang jelas, tentu ide tersebut akan berkonsekuensi pada adanya unit yang akan menangani dan bertanggungjawab, sampai dirumuskan program untuk mencapai tujuan itu.
Sebuah contoh sederhana, aka nada bidang yang menangani bidang informasi dan komunikasi, bertanggung jawab untuk mengelola website, milis maupun database alumni SMAGA. Ketiga hal itu penting sebagai langkah untuk menunjukkan eksistensi ikatan alumni. Terkadang memang, alumni “dilupakan” oleh pihak sekolah. Bagaimana sangat minimnya informasi alumni SMAGA di website sekolah itu. Atau sangat minim anggota 2 milis yang selama ini aktif. Kalau ada bidang yang bertanggung jawab di bidang ini, maka usaha untuk mengumpulkan alumni dalam satu ikatan akan dijalankan secara lebih tersistematis dan dapat dipertanggungjawabkan. Tentu, masih ada hal-hal lain yang bisa dilakukan dan disentuh oleh ikatan alumni dalam kegiatannya untuk lebih berkontribusi.
Bidang-bidang tersebut dapat bekerjasama dengan pihak sekolah untuk pembuatan database alumni. Tiap tahun pasti ada alumni, dan tiap tahun akan terus ada selama sekolah itu tetap beroperasi. Bukankah di event perpisahan, ikatan alumni harusnya tampil di acara tersebut? Sebuah event yang tepat untuk menginformasikan eksistensi alumni SMAGA, program-program maupun aktivitas yang dilakukan sumbangsih alumni bagi almamaternya.
Relasi antara alumni dan sekolah sangatlah penting dilakukan. Konsistensi hubungan keduanya memberikan dampak bagi keberlangsungan proses pendidikan pada almamaternya. Banyak orang tua ataupun siswa yang mengambil keputusan untuk masuk ke suatu sekolah dengan melihat keberhasilan alumninya. Proses belajar selama 3 tahun di SMU telah memberikan kenangan tersendiri bagi alumni, terutama setelah sekian tahun tidak berjumpa dengan sekolah, guru dan teman-temannya, hingga masih ingin memberikan sesuatu untuk alamaternya itu.
Itulah pentingnya alumni melembaga dan terorganisasi dalam satu ikatan. Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Kuncinya adalah pada alumni itu sendiri. Kalau memang masih ingin memberikan sesuatu untuk almamaternya, juga untuk menjalin silaturahmi dengan adik, seangkatan maupun kakak angkatan, mengapa harus tanggung-tanggung. Semuanya perlu ditata sehingga setiap program, aktivitas yang dilakukan akan lebih terencana, teratur, terkontrol dan terevaluasi.
Winarto
SMUGA 2000-2003
Paket Investasi - Menyelamatkan Hutan dengan Solusi 2
February 25, 2009 by cbudiyanto
Filed under Alumni Aggregator
Sebagian besar program penghijauan dilakukan tanpa ada solusi yang ditawarkan sebagai pengganti hilangnya penghasilan dari mengolah lahan di sabuk hijau. Solusi yang ditawarkan ini menjadi penting ketika terlihat bahwa sebagian besar perusakan hutan di sabuk hijau dengan alasan memenuhi kebutuhan perut dan kebutuhan jangka menengah, bukan dalam ide untuk memperkaya diri sebagaimana yang dilakukan para pembalak liar.
Menawarkan solusi ekonomi kepada warga pengolah, juga dengan tujuan membangun ownership mereka secara bersama. Pola yang bisa dilakukan adalah menyerahkan pengelolaan lahan kepada kelompok tani di sekitar DAS, mulai dari penanaman, perawatan, hingga dalam mengolah dan memanen hasil tanaman. Sehingga jika ada pelanggaran yang dilakukan oleh anggota kelompok, sanksi yang diberikan pun bersifat sosial, bukan dengan pendekatan hukum atau kekerasan oleh aparat.
Memberikan alternatif solusi dalam penghijauan lahan DAS memang tidak mudah. Terutama dalam memilih pohon tegakan utama yang akan memberikan nilai ekonomis tanpa perlu peremajaan sesuai dengan kondisi tanah di DAS. Misalnya alternatif yang bisa adalah pohon kapuk Togo B yang pada usia 10 tahun sudah memiliki rentangan daun hingga limabelas meter. Selain itu buah kapuknya sendiri memiliki nilai jual. Alternatif lain adalah tanaman Jabon (Anthocepalus Cadamba), tanaman keras asli dari India, mampu mencapai pokok setinggi 12 meter dalam waktu 6 tahun, dengan diameter batang mencapai 50 cm.
Pertimbangan yang sama perlu dilakukan pada penentuan komoditas yang bisa digunakan sebagai tanaman sela diantara tanaman tegakan utama. Mengingat tidak banyak tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan cocok ditanam di bawah tegakan pohon. Untuk itu bisa dilakukan pola tanam sesuai dengan usia tanaman tegakan.
Tahun pertama dan kedua, ketika naungan masih belum begitu rapat, di antara pohon tegakan masih bisa ditanami jagung, palawija dan singkong. Tanaman ini masih tidak asing bagi petani, sehingga tidak diperlukan treatment apapun.
Pada tahun ketiga, dan seterusnya, ketika naungan daun semakin rapat, sinar matahari tidak cukup untuk bisa menembus rapatnya daun tegakan. Pada saat inilah bisa diperkenalkan tanaman Porang (Amorphophallus Onchophillus / Muelleri Sp) sebagai tanaman sela. Tanaman ini sekeluarga dengan tanaman serupa yang sudah lebih dulu dikenal dan dimanfaatkan warga sebagai bahan makanan pokok alternatif, yaitu suweg.
Karakteristik yang khas dari Porang adalah kemampuannya untuk hidup di lahan dengan sinar matahari kurang dari 50%, ciri khas lain adalah umbinya sangat gatal jika hanya direbus biasa karenanya tidak bisa langsung dikonsumsi. Tanaman ini sudah dikenal sebagai komoditi ekspor ke Jepang, Taiwan, Korea dan negara-negara lain yang memiliki budaya serupa, sebagai bahan makanan khas, yaitu Konnyaku. Karena pada dasarnya tumbuh di hutan-hutan, tanaman ini tidak memerlukan perawatan yang intensif, hanya jika diperlukan bisa dilakukan penyiangan dan pemupukan seperlunya dengan pupuk kandang.
Di Jawa Timur sudah dilakukan budidaya secara intensif, sebagai inisiatif Perhutani dalam merangkul warga sekitar hutan secara bersama-sama menyelamatkan dan mengelola hutan melalui wadah LMDH (Lembaga Masyarakat Dekat Hutan). Harga keripik porang kering yang mencapai Rp 13.000,- /kg, sangat menggiurkan, jika dibandingkan dengan gaplek singkong yang hanya berkisar Rp 2.000 /kg. Dari satu hektar lahan bisa dihasilkan rata-rata 5 ton keripik Porang.
Tiga hal yang sangat perlu diperhatikan agar program penghijauan dengan pola ini bisa lebih cepat terlihat hasilnya adalah, pertama, perlu diperhatikan jarak tanam, yaitu antar pohon minimal 5 meter. Sehingga sejak tahun kedua naungan daun sudah mencapai kerapatan minimal 60%, dimana kondisi ini cocok untuk digunakan membudidayakan Porang.
Kedua, sejak tahun pertama, sangat penting untuk melakukan percontohan budidaya porang di lahan lain, dalam lingkungan kelompok tani pengelola DAS tersebut. Yaitu disamping untuk mengenalkan pola budidaya Porang sebagai tanaman baru, mengenalkan metoda budidaya dan pengolahan pasca panen, juga untuk meyakinkan petani bahwa komoditas tersebut benar-benar bisa laku sesuai dengan harga yang diinformasikan.
Ketiga, secara alamiah Porang baru bisa dipanen pada tahun ketiga yaitu ketika berat satuan umbi mencapai 1,5 – 2 kg, karena itu sangat penting untuk dipikirkan pengadaan bibit yang bisa langsung dipanen sejak tahun pertama, yaitu bibit berupa umbi seberat 3 – 4 ons.
Rasanya hal-hal tersebut di atas bisa secara komprehensif menjawab permasalahan lingkaran setan program penghijauan dan konservasi lahan, khususnya di DAS di seluruh Indonesia. Dan meskipun di atas kertas terlihat sebagai hal yang sederhana, kenyataan di lapangan tetap memerlukan komitmen dari seluruh stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan DAS, dan semua pihak lain yang peduli pada kelestarian ekologi.
cbudiyanto@0209
Artikel disiapkan untuk media
Lihat Bagian 1
Paket Investasi - Menyelamatkan Hutan dengan Solusi 1
February 25, 2009 by cbudiyanto
Filed under Alumni Aggregator
Semua sudah mahfum, bahwa kerusakan DAS Bengawan Solo terutama di hulu sungai sudah pada taraf sangat mengkhawatirkan. Sabuk hijau di sekitar aliran sungai yang merupakan daerah tangkapan hujan dan sekaligus penahan tanah dari erosi karena air hujan, sudah berubah menjadi lahan pertanian yang didominasi oleh tanaman semusim.
Tim Ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007 mencatat peringkat pertama vegetasi yang menutupi subsistem sekitar sungai adalah singkong. Maka sudah tepat jika Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kamis (3/1/2008), akhirnya mengemukakan niatnya mengambil langkah fundamental penyelamatan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo. (Kompas, 8 Januari 2008)
Namun perlu dicermati bahwa program penghijauan bukan sekali ini saja dilakukan. Sudah banyak organisasi non pemerintah atau pemerintah sendiri yang memberikan bibit tanaman kepada warga di sekitar DAS Bengawan Solo dalam program reboisasi dengan tujuan menghijaukan kembali daerah di kanan-kiri sungai yang sudah berubah fungsi. Bahkan hutan sabuk hijau di sekitar hulu sungai Bengawan Solo, sebelum aliran sungai masuk ke kawasan Waduk Gajah Mungkur, adalah bukti bahwa pemerintah telah merencanakan peruntukan lahan sebagai langkah konservasi Bengawan Solo. Dimana sekian ratus meter dari aliran sungai adalah kawasan hutan lindung dengan tanaman keras seperti akasia, mahoni dan sengon. Hingga akhir tahun 80an hutan sabuk hijau tersebut masih cukup lebat, menjadi habitat burung liar, dan mampu menampung air hujan sebagai air tanah. Di dalam kawasan hutan lindung tersebut masih bisa ditemuai aliran kali kecil dengan airnya yang bening didiami ikan air tawar.
Fakta kerusakan hutan lindung pada sabuk hijau DAS Bengawan Solo, dengan segala permasalahannya semestinya dijadikan pelajaran dalam mengelola program penghijauan secara efektif. Harus dicermati masalah sosial dan ekonomi yang melatar belakangi kondisi tersebut, diantaranya sebagai berikut :
1. Kondisi perekonomian petani penggarap lahan DAS rata-rata kurang baik dan sebagian besar berasal dari keluarga miskin. Lahan yang mereka miliki rata-rata lahan tadah hujan yang hanya bisa ditanami palawija pada musim hujan dan setelahnya ditanami singkong dengan hasil yang minim. Mengolah lahan pasang surut di bantaran sungai adalah alternatif menambah penghasilan bagi warga dengan lahan garapan terbatas ini.
2. Sabuk hijau DAS di bawah pengawasan mantri hutan. Mereka tidak efektif melakukan pengawasan karena beberapa hal, pertama mantri hutan seringkali tidak menempati rumah dinas yang disediakan dalam kawasan hutan, kedua karena keterbatasan personil tidak sebanding dengan area yang harus diawasai, ketiga karena tidak tegasnya para pelaksana di lapangan dalam menegakkan peraturan, keempat semakin hilangnya kesadaran masyarakat untuk tidak mengambil barang yang bukan hakknya, sebagai dampak dari budaya dan contoh koruptif dari para pembesar negara, kelima semakin beratnya tuntutan hidup karena perubahan pola hidup konsumerisme .
3. Perusakan dilakukan secara bertahap dan sistematis. Ranting-ranting dan dahan kecil dipotong untuk keperluan kayu bakar, kemudian sampah daun-daunan dibakar di pangkal pohon, lama kelamaan pohon akan kering dan mati, ketika itu baru pohon ditebang. Hal yang terlihat sederhana ini, akan membawa dampak luas ketika secara komunal dan terus menerus warga melakukan hal yang sama.
4. Program penghijauan dengan menyerahkan bibit tanaman kepada petani sangat tidak efektif. Karena tidak ada pengawasan dan evaluasi atas jalannya program. Kenyataan di lapangan bibit pohon tersebut bisa saja ditanam di lahan perorangan yang tidak termasuk dalam area penghijauan. Atau ketika ditanam di lahan penghijauan secara sengaja tidak diberikan perawatan yang memadai, sehingga akhirnya pohon tersebut pun mati. Akhirnya gerakan penghijauan yang dilakukan tak lebih hanya mekanisme menghambur-hamburkan anggaran dan bagi-bagi rejeki kepada para rekanan.



