IRRASIONAL BUT REAL

November 28, 2008 by Rachmad Hakim  
Filed under Alumni Aggregator

Manusia mulai mengenal bilangan dari perhitungan benda-benda. Karena itu, muncul bilangan natural (asli) yang dimulai dari 1, 2, 3, … dst. Bilangan digunakan terutama untuk menghitung kuantitas ataupun entitias yang memiliki perilaku kuantitas.
Sistem bilangan yang dibuat manusia semakin berkembang seiring dengan pengetahuannya.

  • Bilangan cacah: {0, 1, 2, 3, …}
  • Bilangan bulat: {…, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3,…}
  • Bilangan pecahan: seperti: -½, ¼ ½ -¼
  • Bilangang rasional, terdiri dari bilangan bulat dan pecahan

Rasional
Misalnya saya mempunyai sebuah batang logam dengan panjang 1 meter. Jika logam tersebut dipatahkan di satu titik atau beberapa titik, tentu akan terpotong dengan panjang tertentu menjadi beberapa bagian.

  • Jika dipotong menjadi dua sama besar, setiap potongan ½ meter.
  • Jika dipotong menjadi tujuh titik sama besar, setiap potongan 1/7 meter.
  • Jika dipotong menjadi 7497891 sama besar, setiap potongan bernilai 1/7497891.
    Demikian seterusnya sehingga jika dipotong sebegitu banyaknya, kita akan mendapatkan potongan yang begitu kecilnya.

Inilah yang menjadi dasar pemikiran Pythagoras yang menyatakan bahwa dalam satu rentang jarak, pasti ada nilai yang begitu kecilnya yang dapat menyatakan dengan tepat berapa jarak tersebut. Karena itulah, kuantitias pengukuran, dalam hal ini adalah jarak, diukur dengan bilangan. Rasional bukan?

Irrasional
Sesuatu yang real, terkadang tidak harus rasional. Dalam Matematika istilah rasional berhubungan dengan rasio (ratio), yaitu perbandingan satu nilai dengan nilai lainnya. Rasio inilah yang membentuk persepsi berkaitan dengan kuantitas.
Mari kita berpetualang dengan sesuatu yang real namun irrasional. Misalnya saya mempunyai batang logam sepanjang dua meter. Logam tersebut dipotong pada satu titik dengan panjang tepat ?2 m dari salah satu ujung logam. Pertanyaannya, berapa meterkah panjang patahan logam tersebut?
Mungkin Anda menganggap saya mengada-ada. Bagaimana caranya kita menentukan titik yang memiliki panjang tepat ?2? Mudah saja, gunakan rumus segitiga siku-siku untuk mengukur panjang ?2.


Jelas meskipun nilainya tidak rasional, panjang dengan nilai ?2 benar-benar ada, yaitu di terletak antara 1 dan 2. Sampai sekarang, ?2 masih tidak dapat dihitung tepat nilanya dengan tepat (uncountable). Baik itu diwujudkan dalam bilangan desimal maupun dalam bilangan pecahan.
Angka 1,414213562 merupakan bilangan yang cukup mendekati. Jika terus dihitung, nilai desimal di sebelah kanan akan muncul terus-menerus tanpa pola.
Lebih jauh lagi, nilai ?2 tersebut benar-benar tidak akan pernah dapat ditampilkan dalam bilangan pecahan sekalipun karena akan muncul kontradiksi. Agar jelas, mari dibuktikan berdasarkan panjang segitiga sama siku-siku sama kaki.


Jika b dapat ditampilkan dalam bilangan pecahan, maka b dapat juga dibagi dengan a. Misanya kita membandingkan antara nilai b:a dari segitiga di atas dalam bentuk terkecilnya. Menurut teorema Pythagoras, maka:
b2 pasti bilangan genap karena dihasilkan dari perkalian dengan 2.
b pasti bilangan genap karena b2 sendiri genap. Ingat, akar dari bilangan ganjil pasti ganjil, dan sebaliknya.
Dalam bentuk terkecil, nilai a dalam b:a adalah ganjil. Ini terjadi karena b adalah genap dan b>a. Jadi, a bernilai GANJIL.
Karena b adalah genap, maka dapat diekspresikan sebagai perkalian dengan dua, misalnya b=2x.
Jadi
Dengan kata lain a2 adalah genap sehingga a juga bilangan GENAP.
Disinilah muncul kontradiksi karena a disimpulkan bernilai GENAP sekaligus GANJIL.
Kontradiksi yang dapat muncul berkaitan dengan penggunaan bilangan dan geometri tersebut telah dipaparkan oleh Hippasus, ahli matematika Yunani kuno abad 5 SM. Akibat penemuannya yang bertentangan dengan filosofi Pythagoras, Hippasus yang juga murid Pythagoras tersebut dianggap penganut ajaran sesat. Meskipun Pythagoras sendiri tidak dapat menemukan kesalahan dari reductio ad absurdum (pembuktian melalui kontradiksi) yang dikemukakan Hipassus, Hipassus akhirnya dihukum mati dengan cara ditenggelamkan.

The greatest gift

November 26, 2008 by vitri  
Filed under Alumni Aggregator

our greatest gift is to be able to share…

Christmas Book

November 26, 2008 by Andri Prasetya  
Filed under Alumni Aggregator

Tahun 2003,itulah pertama kali menginjakkan kaki di Kutisari, setelah selesai SMU, Tuhan beri kesempatan untuk kuliah di Petra masuk sebagai mahasiswa baru, Juli 2003. Sebelum itu (waktu SMU) memang pernah beberapa kali ke Kutisari untuk ikut PD Pemuda diajak oleh seorang rekan, yang sekarang malah telah melayani menjadi penatua. Bersyukur sejak awal masuk kuliah sudah mulai dikenalkan untuk ikut PD Pemuda dan terus berinteraksi dengan komunitas pemuda di Kutisari, harus diakui hal inilah yang sangat menolong saya untuk melewati masa adaptasi dengan baik.

Waktu berlanjut, datang tawaran dari rekan-rekan untuk bergabung dalam kepengurusan di KPR, waktu itu sebagai Sie persekutuan. Saya sangat sadar bahwa karena anugerahNya juga yang memampukan kita untuk melayani Dia, karena kebaikanNya juga kita dijadikan Rekan SekerjaNya. Dalam masa-masa itu saya terus menikmati proses yang Tuhan berikan, bersyukur di dalam tim saya boleh belajar dari rekan-rekan senior sekaligus sebagai “kakak” dan “mentor” bagi saya sekaligus membimbing dan mengarahkan anggota yang lain.

Selesai dalam kepengurusan ini 2 tahun kemudian, saya masih bisa terus merasakan gairah untuk terus melayani Tuhan lewat dan bersama anak-anak muda (rekan-rekan) yang Tuhan beri di sekitar saya. Saya melihat betapa waktu-waktu muda ini adalah masa-masa krusial bagi fase kehidupan sesorang. Orang dari berbagai macam daerah datang ke Kutisari, dengan berbagai latar belakang mereka tentunya, akan sangat indah melihat pemuda-pemuda yang datang tersebut tidak hanya dibekali secara intelektual melalui studi yang mereka ikuti, tetapi juga mereka siap secara spiritual, berakar teguh di dalam Tuhan, menjadi pribadi-pribadi yang utuh.
Sungguh “menyenangkan” melihat proses pertumbuhan bersama rekan-rekan yang melayani dan yang dilayani, melihat orang-orang yang terus berjuang mengusahakan pertumbuhannya di dalam Tuhan, melihat orang-orang yang “Klik” akan cinta Tuhan, yang “Klik” dengan tujuan dan makna hidupnya pada masa-masa mudanya ini, termasuk saya.

Setelah itu Tuhan mempercayakan sebuah pelayanan lagi di dalam kepungurusan di KPR, mejadi salah seorang Badan Pengurus Harian (BPH). Beragam hal kembali hadir dalam masa-masa bakti pelayanan ini, tidak selalu hal-hal yang menyenangkan, banyak juga hal-hal menyesakkan yang datang. Namun dalam kesemuanya itu saya terus mengimani bahwa dalam hal-hal yang tidak baik pun dalam pandangan saya, itu mendatangkan kebaikan bagi saya. Dalam masa-masa ini juga terus belajar untuk bersabar, belajar menjadi pendengar yang baik, belajar mengkomunikasikan suatu hal dengan baik, belajar untuk terus memprioritaskan pertumbuhan sesorang jauh melebihi sekadar melakukan kegiatan dan aktivitas. Tidak selalu berhasil memamng, tapi paling tidak saya satu step lebih lagi belajar menjadi seorang pelayan yang baik. Ternyata menjadi seorang pelayan yang baik-pun kita masih butuh untuk belajar.

Masa tersulit bagi saya melewati pelayanan ini adalah kenyataan bahwa tahun kedua masa pelayanan ini harus dilalui bersamaan dengan masa-masa mecari pekerjaan(setelah menyelesaian studi) dengan demikian setiap plan-plan untuk masa depan tidak bisa dibuat dengan “bebas”, harus ditundukkan dalam komitmen yang sudah diambil. Sempat ada waktu-waktu dimana ada pergumulan untuk meninggalkan Surabaya karena alasan pekerjaan dan keluarga, namun Puji Tuhan sekali lagi saya bersyukur kalau masih terus diijinkan untuk berada di Surabaya ini, dan terus melayani. Thanks buat beberapa rekan yang terus mendukung dan mengiringi dalam setiap proses pergumulan yang ada.

Saat ini (saat tulisan ini dibuat) saya sudah akan mengakhiri masa kepungurusan, kita sedang mempersiapkan regenerasi untuk pelayanan ke depan, pelayanan ini boleh selesai namun saya masih dan akan terus percaya bahwa proses ini tidak boleh mandeg sampai di sini, ada banyak hal yang akan terus Tuhan kasih, memproses kita pada proses pengudusan semakin serupa dengan gambaran AnakNya. Tidak pernah ada kata “RETIRE” bagi seorang pelayan. Ketaatan, komitmen, dan konsistensi adalah kuncinya.

Berbicara mengenai Natal, tidak banyak memang momen Natal yang saya lewatkan bersama GKI Kutisari (seingat saya hanya tahun kemaren -2007 saya mengikuti full rangkaian adven, Natal, sampai pembukaan tahun baru). Berkaitan dengan tugas dan karya layanan, Natal terus mengingatkan siapa diri saya ini dihadapan Dia yang saya layani.
Momen yang sangat tepat untuk terus meneladan apa yang sudah Kristus lakukan. Selamat masuk dalam masa-masa penantian (Adven) dan selamat meneladan apa yang Tuhan sudah buat bagi Saudara dan Saya. Selamat Natal 2008.

Andri
pelayanNya di GKI Kutisari
Soli Deo Gloria.

(nb: Tulisan ini murni kesaksian pribadi saya)

PERSPEKTIF TINDAKAN DALAM HIDUP

November 24, 2008 by Rachmad Hakim  
Filed under Alumni Aggregator

Dalam kehidupan modern, manusia cenderung mengkategorikan tindakannya berdasar waktu dan tujuan. Berikut contoh pengkategorian tindakan dalam satu hari:

  • Tidur. < =8 jam
  • Bekerja. ± 8 jam
  • Mengurus diri sendiri, keluarga (anak & istri), dan bersosialisasi. >8 jam

Cara lain yang lebih umum, kegiatan dikotak-kotakkan berdasarkan maksud tindakan tersebut. Berikut contohnya:

  • mandi, makan, berangkat kerja, bekerja, pulang kerja, mandi, nonton tv, bersosialisasi, main game, tidur.
  • mandi, makan, berangkat sekolah, pulang sekolah, makan, main, nonton tv, mandi, makan, diskusi keluarga, belajar, mengerjakan PR, tidur.

Tindakan di atas dilakukan melalui serentetan tindakan-tindakan kecil yang menjadi pembentuknya:

  • Makan: berjalan, ambil piring, ambil sendok, ambil nasi, duduk, ambil lauk-pauk, makan.
  • Berangkat kerja: Siapkan tas dan peralatan yang harus dibawa, pakai sepatu dan kaos kaki, siapkan motor, naik motor, lewati jalan A, jalan B, sampai di kantor

Meskipun tidak pernah diajarkan secara langsung, hampir semua manusia cenderung mengkotak-kotakkan hidup menjadi tindakan-tindakan yang harus dilakukannya. Proses tersebut tidak hanya terjadi dalam pikiran sadar, namun juga melalui mekanisme bawah jika sudah menjadi rutinitas.
Pengkotakan tindakan-tindakan dapat membantu kita tetap terorganisir dan fokus di tengah-tengah hiruk pikuknya kehidupan modern. Namun di sisi lain, pengkotakan tersebut dapat membuat hidup menjadi hambar. Kita seakan-akan hanya menjadi mesin robot penggerak berlangsungnya kehidupan modern. Manusia semakin rentan mengalami alienasi dan kehilangan dirinya sendiri.
Dilihat dalam persepsi tersebut, hidup manusia dapat tereduksi menjadi sekumpulan kegiatan yang harus dilakukannya. Dengan kata lain, hidup adalah kumpulan tindakan seperti tidur, makan, bekerja, mandi, baca koran, nonton tv, futsal, main game, dll.

EMBRACE THE MOMENT
Selama melakukan tindakan, pikiran cenderung melupakan saat ini dan hanya fokus ke arah tujuan yang ingin diraih. Misalnya:

  • Menuangkan air, teh, gula, dan air dilakukan agar kita dapat minum teh.
  • Berangkat kerja mempunyai tujuan agar sampai di tempat kerja.

Dari contoh di atas, perjalanan dari rumah ke tempat kerja hanya dilakukan dengan maksud sampai di tempat kerja. Akibatnya, dalam perspektif tersebut, waktu yang kita lalui dalam perjalanan, seperti menunggu bus misalnya, tidak akan dianggap sebagai poin penting yang berharga dibandingkan dengan tujuan sampai di tempat kerja itu sendiri.
Menyadari bahwa hidup hanya terjadi saat ini, maka setiap momen dalam kehidupan harus dihargai. Sama berharganya dengan tujuan-tujuan yang kita inginkan. Pengkotakan hidup menjadi tindakan-tindakan harus dilakukan tanpa melupakan saat ini. Karena hidup hanya terjadi pada saat ini.
Jika kita hanya menghargai tujuan dari tindakan kita dan melupakan momen kehidupan, maka kualitas hidup menjadi berkurang. Hidup telah tereduksi menjadi serentetan aktivitas untuk meraih tujuan-tujuan yang kita inginkan. Tujuan seakan menjadi lebih penting dari hidup itu sendiri. Waktu pun menjadi terasa jauh lebih cepat berlalu.
Kebahagiaan tidak harus dirayakan hanya ketika tujuan telah berhasil dicapai. Dalam setiap saat momennya, hidup harus dihormati. Dalam setiap tarikan nafas, setiap langkah kaki, setiap suara yang memasuki telinga kita, setiap cahaya yang masuk ke dalam mata kita, semua memiliki keindahan tersendiri. Jangan sampai kita silau dengan tujuan sehingga membutakan kita sendiri sehingga tidak lagi mampu melihat setiap keindahan-keindahan tersebut.
Embrace the moment, embrace the life

Porang vs Suweg, Bukan saudara kembar..

November 24, 2008 by cbudiyanto  
Filed under Alumni Aggregator

Meski judul di atas terlihat profokatif, bukan berarti saya bermaksud membenturkan kedua komoditi tersebut. Saya ingin memaparkan data data fisik yang menjadi ciri khas yang membedakan kedua tanaman ini. Beberapa kali saya temui rekan yang menganggap suweg sebagai porang yang bernilai ekonomis tinggi.

Sampai saat ini saya cukup bisa memahami kenapa begitu sulit mengajak teman, saudara atau kenalan, apalagi yang tidak kenal - untuk beramai-ramai membudidayakan Porang di kebun mereka yang menganggur karena tidak bisa ditanami dengan tanaman palawija atau tanaman pangan yang membutuhkan sinar matahari langsung.
Ada lagi alasan yang menyebabkan pemaparan saya mengenai potensi ekonomis porang kurang mereka minati (mungkin loh), adalah mereka menganggap suweg sama dengan Porang. Jadi mereka pikir tidak masuk akal jika makanan desa tersebut bisa laku dijual mahal.
Satu lagi alasan keengganan menanam Porang adalah, umbi tanaman ini tidak bisa langsung dikonsumsi, sementara jika dibandingkan dengan suweg, dengan sekedar direbus saja sudah bisa dimakan sebagai pengganti nasi.

Suweg bukan porang, begitu pula sebaliknya. Yang sering membingungkan adalah, karena nampak fisik luarnya 80% mirip. Tetapi meski begitu, kita masih memiliki kesempatan 20% untuk mengenali perbedaan diantara keduanya.

1. Keduanya memiliki daun yang 100% sama. Bentuk menjari, pangkal daun 3, kadang daun berwarna hijau cenderung gelap, kadang juga hijau cerah. Tetapi daun porang masih bisa kita kenali dengan melihat titik pangkal daunnya, pada tempat itu akan terlihat bulatan kecil berwarna hija cerah hingga coklat sebagai bakal tumbuhnya bulbil, titik tersebut mulai terlihat sejak tanaman berusia kurang lebih 2 bulan. Titik bulbil tersebut sangat kentara, jadi tidak perlu khawatir salah. Lebih jelas lagi pada tanaman dengan usia lebih dari satu tahun, karena titik pertumbuhan bulbil lebih banyak lagi, pada pangkal daun yang bercabang menyebar di banyak tempat.

2. Keduanya memiliki batang yang sama, berwarna hijau cerah dengan totol-totol putih. Tapi tunggu dulu, cobalah meraba batang tersebut dengan seksama. Tidak akan terlalu lama untuk memastikan bahwa salah satunya bertekstur kasar, sedang yang lainnya halus mulus. Batang yang halus inilah yang merupakan batang tanaman Porang, tidak akan salah.

3. Ketika umbi sudah dipanen, lihatlah kondisi fisik luarnya. Jika umbi memiliki titik-titik percabangan umbi, seperti terlihat berupa benjolan ke samping, maka pastilah itu umbi suweg, karena umbi porang berupa umbi tunggal. Lalu irislah sedikit umbinya, semakin terlihat dengan jelas perbedaan umbinya. Karena umbi suweg berwarna putih kadang cenderung berwarna ungu atau merah jambu, sedangkan umbi porang kuning cerah (ingat bendera partai Golkar? tidak akan salah lagi, warnanya seperti itu). Tetapi akan ada sedikit masalah jika anda menemui umbi berwarna kuning cerah, tetapi ada benjolan titik tumbuh, di beberapa daerah menamai umbi semacam itu dengan nama walur, dan bisa dipastikan itu bukan porang, karena serat umbinya kasar, sedangkan porang serat umbinya halus nyaris tak terlihat, hanya berupa titik-titik saja.

Baik, demikian paparan saya, semoga kita tidak salah lagi.

SELF ESTEEM

November 17, 2008 by Rachmad Hakim  
Filed under Alumni Aggregator

Dalam bahasa yang sederhana, self esteem sering diartikan dengan harga diri. Berikut adalah beberapa definisi mengenai self esteem:

  • Sense of one’s own worth, sense of one’s value. Babylon Pro
  • Overall evaluation or appraisal of her or his own worth. Wikipedia.
  • Self-respect: confidence in your own merit as an individual person. (Microsoft® Encarta® 2009).

Harga diri berhubungan dengan nilai apresiasi yang kita berikan terhadap diri kita sendiri.
Jika percaya diri (self confidence) berkaitan dengan antisipasi masa depan, maka harga diri (self esteem) berkaitan dengan evaluasi masa lalu.
Harga diri merupakan AKIBAT dari evaluasi yang dilakukan terhadap diri kita, baik secara langsung mapun tidak langsung.

  • Langsung, kita melakukan evaluasi tentang aspek dalam diri yang kita anggap penting
  • Tidak langsung, kita mendapat feedback dari orang lain, terutama: teman, orang tua, lingkungan tempat tinggal, sekolah. Feed back dapat berupa tanggapan orang lain terhadap diri kita, apakah diri kita dihargai, disepelekan, dicemooh,disayangi, dibenci, diacuhkan, dll.

Evaluasi diri dapat berhubungan dengan sesuatu yang kita anggap penting, misalnya: bentuk fisik tubuh/wajah, pendidikan, pekerjaan/penghasilan, kekayaan, prestasi, jabatan, keturunan, agama, ras, dll. Tiap orang bisa berbeda-beda, dan tidak terbatas pada faktor yang baru saja disebutkan.
Evaluasi diri dapat dilakukan melalui mekanisme sadar ataupun bawah sadar. Kebanyakan hasil evaluasi diri bersifat subjektif. Evaluasi diri dibangun berdasarkan keyakinan dan pengalaman hidup. Masukan dari orang-orang yang dianggap penting juga sangat berpengaruh, apalagi saat masih kecil dan belum dewasa secara emosi/pemikiran. Perlakuan lingkungan, seperti orangtua, saudara, tetangga, dan teman dapat mempengaruhi pembentukan self esteem bahkan setelah orang tersebut dewasa.

RENDAH DIRI
Hasil evaluasi diri dapat menimbulkan high self esteem atau low self esteem. Dalam dosis tinggi, high self esteem yang tidak stabil (fragile) dapat mengakibatkan narsisme, sedangkan low self esteem dapat menimbulkan inferiority complex (rendah diri).
Rendah diri muncul sebagai akibat diri kita tidak mampu memenuhi kriteria yang kita tentukan sendiri. Kriteria muncul dari keinginan untuk melebihi atau paling tidak dapat mengimbangi orang-orang di lingkungan kita. Baik aspek dalam diri kita, maupun aspek tanggapan orang lain terhadap diri kita. Beberapa kriteria juga berkaitan dengan harapan minimal agar kita tidak dipandang remeh orang lain, termasuk agar layak diterima orang lain.
Rendah diri berpengaruh ke dalam pemikiran, emosi, dan tingkah-laku:

  • Pemikiran: memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, self conscious, berkeyakinan negatif
  • Emosi: malu, tidak nyaman, takut, terintimadasi secara psikologis, merasa tidak layak
  • Tingkah laku: nervous, salting, menghindar

SELF ESTEEM DAN EGO
Dari perspektif ego, harga diri muncul sebagai akibat membandingkan diri kita dengan orang lain. Yang sebenarnya dibandingkan bukanlah diri kita, namun bentuk (form) ego. Jadi, yang dibandingkan adalah jabatan, penghasilan, level cantik/ganteng, penerimaan orang, dan segala bentuk form ego yang kita miliki. Bukan diri kita sebenarnya.
Jika masih tergantung pada ego, maka rendah diri (low self esteem) dapat muncul setiap saat. Beberapa cara menghilangkan rendah diri dan meningkatkan harga diri:

  • Perbaiki diri sehingga memenuhi harapan atau syukur-syukur dapat melebihi orang lain
    Kelemahan: beberapa area sulit dapat diubah, seperti: penampilan, tinggi badan, warna kulit, tingkat IQ, dll. Terima yang tidak dapat diubah, dan berusahalah mengubah yang dapat diubah merupakan solusi yang lebih tepat.
  • Seringlah untuk membandingkan diri kita dengan orang yang lebih rendah. Jangan banyak memikirkan orang yang lebih maju/beruntung.
    Kelemahan: hanya berfungsi untuk mengalihkan fokus saja. Kita menjadi sulit untuk berjiwa besar. Pikiran seakan membenarkan ’senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang’.
  • Hentikan membandingkan diri kita dengan orang lain. Gunakan tolak ukur kemampuan sendiri, bukan orang lain.
    Tidak selalu dianjurkan. Jika dilakukan dengan benar, membandingkan diri dengan orang lain dapat mendatangkan manfaat. Bukan dalam rangka mengalahkan orang lain, namun belajar dari mereka dan melakukan kalibrasi terhadap kemampuan kita sendiri.
  • Lakukan evaluasi diri tanpa melibatkan aspek emosi. Gunakan rasa kagum sebagai pengganti rendah diri saat membandingkan diri dengan orang lain.
    Rendah diri muncul jika pikiran terlalu fokus pada diri sendiri, sedangkan kagum muncul jika pikiran lebih seimbang dan berfokus pada keberhasilan orang lain. Gunakan pembandingan untuk menyelesaikan masalah, bukan mencari masalah baru.

Jika masih dikuasai ego, maka setiap saat kita dapat terperangkap dalam rasa rendah diri. Namun jika kita berhasil menetralisir ego, masalah yang berhubungan dengan self esteem akan hilang dengan sendirinya.

Pensi SMAGA

November 17, 2008 by wikarya  
Filed under Alumni Aggregator

Comments Off

tunggu saja kehadirannya……
bertajuk “SMAGA Sparkling of Art”….

Pelatihan Jurnalistik 2008

November 17, 2008 by wikarya  
Filed under Alumni Aggregator

Comments Off


Nah…ini dia sobat Wiks, acara tergress dari subsie WIKARYA. Udah pada tau kan???yupz!!bener banget!!Pelatihan Jurnalistik 2008.


Acara Pelatihan Jurnalistik 2008 ini diadain WIKARYA pada tanggal 19 Oktober 2008 di SMAGA lokasi Kerkop. Kali ini Wikarya mengambil tema “Express Your Freedom Through Out The School Journalist”. Maksud dari tema itu sendiri menurut anak-anak Wikarya adalah siswa bebas mengekspresikan sesuatu melalui junalistik sekolah yang tak lain adalah Wikarya.

Tak lupa acara pelatihan ini juga mendapat sponsor dari Coca-Cola, SOLOPOS, STMIK Sinar Nusantara dan juga Primagama Jagalan.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini Wikarya dengan berani menargetkan peserta pelatihan hanya dari siswa SMAGA sendiri. Padahal biasanya acara Wikarya seperti ini gabungan dengan Situs 6 (SMAN 6 Surakarta).

Para peserta pelatihan ini dikenai biaya kontribusi Rp 10.000,00 dengan berbagai fasilitas, diantaranya Blocknote+bolpoin, softdrink, makan siang, snack dan stiker.

Acara pelatihan ini dimulai pukul 08.30 WIB. Namun sebelumnya para peserta tadi melakukan pendaftaran ulang. Acara pertama adalah sambutan-sambutan dari Ketua OSIS, pihak sekolah yang saat itu diwakilkan oleh Pak Haryanto selaku Pembina OSIS, dan juga sambutan dari Ketua Pelaksana pelatihan ini yaitu Muhammad Fidhzariyan Kusuma Utama atau yang akrab disapa Aya dari kelas XI SBI.

Dilanjutkan sesi pertama yaitu dasar-dasar jurnalistik yang disampaikan oleh mbak Astrid Prihatini WD selaku redaktur SOLOPOS. Pada sesi ini peserta mendapatkan yang namanya dasar-dasar jurnalistik dan apa saja yang dibutuhkan dalam dunia kejurnalistikan. Sebelum sesi kedua para peserta mengikuti game dari panitia. Pokoknya seru banget!!! SzsSzsTttT!!! Gamenya rahasia sobat Wiks…hehehe…

Sesi kedua yaitu sesi fotografi. Inilah sesi yang ditunggu para peserta maupun panitia. Kali ini Wiks crew mwnghadirkan seorang fotografer dari FFC (Fisip Fotografi Club) namanya mas Jati. Ia mengajarkan yang namanya tekhnik-tekhnik dasar mengambil gambar yang bagus, membuat efek pada foto dan juga menerangkan guna suatu efek pada suatu foto.

Sesi yang terakhir yaitu “how to make a good magazine”. Sesi terakhir ini ternyata masih diisi oleh mbak Astrid Prihatini WD dari SOLOPOS tadi. Pada sesi ini peserta mendapatkan trik maupun cara bagaimana menyusun sebuah majalah dan membuat sebuah majalah itu menarik hingga diminati oleh banyak orang.

Harapan para Wiks crew yaitu supaya dunia kejurnalistikan ini mengglobal pada kalangan siwa-siswi SMA.

Itu tadi segelintir liputan kami tentang acara pelatihan jurnalistik 2008. Moga aja pelatihan tahun depan sama suksesnya atau bahkan lebih sukses dari tahun ini.

My imaginary Boyfriends

November 16, 2008 by why I love my world,,  
Filed under Alumni Aggregator

Beberapa waktu lalu ketika gw sedang bongkar-bongkaran mau pindah rumah, gw menemukan kembali koleksi komik-komik jaman kecil dulu.

Jadi kangen nih sama komik-komik oldies favorit gw di tahun 90-an. Dan diantara komik-komik yang beredar pada masa itu, hanya sedikit komik -salah satunya Cand-Candy- yg ceritanya telah menjadi obsesi gw. OBSESI yg menyebabkan gw jadi punya kebiasaan berkhayal ttg kelanjutan cerita2 komik tsb ,,

Kalau untuk istilah kerennya, seharusnya gw berkhayal seperti “seorang seniman kakap yg sedang mencari inspirasi” ya, tapi pada prakteknya kayaknya gw lebih mirip seperti orang bengong-kebelet-sembelit . Untung bengong sendirian-nya gak sampai ke tahap bisa kesambet jin lagi buang anak *saat menulis ini, di layar TV lagi diputar si “Hannibal Lecter” hiiiiyyyy…*

Istilahnya, kalau anak-anak kecil yang lain memiliki teman khayalan atau yang lebih popular di sebut imaginary friend-nya,…

Globalize Yourself!

November 16, 2008 by jeferykusnadi  
Filed under Alumni Aggregator

clicknsmart

Add to Technorati Favorites

Bookmark and Share

In this competitive marketplace, many big or small companies are expanding their businesses outside the United States. Wal-Mart has been operating in 12 different countries in the world; McDonald and Dell computer are another examples companies that go global. Even in the service sectors, companies like KPMG, Deloitte, Mercer and Pricewaterhouse Cooper are examples of service companies that conduct business in many countries outside the United States. As college students and recent graduates, we should notice the globalization and prepare ourselves well in advance before we enter the workforce.

Nowadays, higher educations such as college educations and even graduate education may not be enough to prepare us to compete in the marketplace when we look for a job after graduation. One advise, “Globalize Yourself”.

How can you globalize yourself? If you’re still in college, take any opportunity of studying abroad (China, Germany, France, Singapore, etc) to gain some international cultures and experiences, and also take classes such as: international business, Asian cultures, European cultures, foreign language classes, etc.  Today it is increasingly difficult, if not impossible, to find top managers at large firms without significant global competence. Of course, eventually hands-on global experience gained from studying abroad and doing internship in a company with global operation will be required as well. With the knowledge of international business, international cultures and mastery of foreign languages, you are also setting yourself apart as a more ideal candidate to be selected as an expatriate manager. An expatriate manager is a manager who works abroad; the typical compensation package for an expatriate manager of the U.S firms is approximately $250,000 to $300,000 ( including benefits, such as: company subsidized luxury housing, free tuition for choldren in American/ international school, all-expenses paid vacation for the whole family, etc).

In short, in this age of globalization, “How do you keep from being Bangalored? Or Shanghaied?” (That is, have your job outsourced to India and/or China.) A good place to start is to globalize yourself in advance before hitting the workforce. If you have already done so, I congratulate you; furthermore, do not forget to state your international experiences (study abroad, take international business, cultural and foreign languanges courses, and other hands-on international experiences) in your resume when you apply for a job; this helps to distinguish yourself among many highly educated applicants with no international experience.

Good luck and please feel free, if you have any international experience  that you would like to share with other college students.

Written by ClickNSmart Team

Next Page »